Penerapan Teknologi RFID Untuk Perpustakaan Universitas: Studi Kasus di Library Knowledge Center Universitas Bina Nusantara
Rony Baskoro Lukito, Deddy Arifin, Cahya Lukito
Program Studi Ilmu Komputer,
Universitas Bina Nusantara
Jl. Kebun Jeruk Raya 27 Jakarta
Barat 11530
Abstrak
RFID (Radio Frequency Identification) merupakan proses pengidentifikasian
suatu objek secara dengan frekuensi radio. Ada dua komponen penting dalam
sistem RFID yaitu kartu/label (Tag) dan pembaca (Reader). Pada masing-masing tag
terdapat ID yang berbeda-beda (unik). Selain ID, pada tag juga terdapat suatu
blok yang digunakan untuk keamanan. Pada aplikasinya di perpustakaan, semua
buku yang akan dibaca oleh reader ditempel tag. Dengan adanya tag pada
masing-masing buku dan tag pada kartu anggota perpustakaan, maka dapat dibuat
sebuah aplikasi yang memungkinkan untuk pengguna meminjam sendiri buku-buku
yang diinginkan tanpa melalui petugas. Aplikasi akan langsung mencatat ID
peminjam, ID buku, dan otomatis mematikan kode pengaman agar buku dapat dibawa
keluar perpustakaan tanpa mengaktifkan alarm.
Kata kunci: RFID, tag,
reader, self-service, layanan perpustakaan
I. PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang
Dengan berkembangnya ICT (Information and
Communication Technology) dengan pesat, ICT dapat diterapkan ke hampir semua
kegiatan yang ada. Salah
satunya adalah penerapan ICT pada perpustakaan.
Salah satu penerapan ICT
di perpustakaan adalah dalam hal stock opname buku. Stock opname ini perlu
dilakukan agar dosen dan mahasiswa mendapatkan informasi yang benar tentang
jumlah buku di perpustakaan. Karena semua buku di perpustakaan sudah terintegrasi
dengan sistem RFID, stock opname pun dilaksanakan dengan membaca tag RFID yang
berada di setiap buku. Hasil pembacaan dicatat dan dibandingkan dengan data
master buku yang ada di database. Jika ada buku di master buku di database dan
tidak ada di daftar buku yang dipinjam dan tidak ada di daftar buku hasil stock
opname, maka buku tersebut dinyatakan hilang.
I.2
Rumusan
Masalah
Salah satu masalah yang ada pada perpustakaan
sekarang ini adalah pada saat stock-opname buku.
Untuk mewujudkan hal ini maka perpustakaan harus
didukung oleh pemanfaatan ICT pada sistem peminjaman dan pengembalian buku.
.
I.3
Tinjauan
Pustaka
Berikut ini akan dijelaskan mengenai teknologi
RFID yang digunakan untuk otomasi layanan sirkulasi di perpustakaan.
I.3.1
RFID (Radio Frequency Identification)
RFID (Radio Frequency Identification)
atau Identifikasi Frekuensi Radio adalah istilah generik yang
digunakan untuk menggambarkan
sebuah sistem yang mentransmisikan identitas (dalam bentuk nomor
seri yang unik) dari
suatu obyek atau
orang tanpa kabel, menggunakan gelombang radio. (RFID Journal, 2011)
Teknologi Auto-ID ini termasuk barcode, pembaca
karakter optik dan beberapa teknologi biometrik, seperti scan retina. Teknologi
auto-ID telah digunakan untuk mengurangi jumlah waktu dan kerja yang diperlukan
untuk menginput data secara manual dan untuk meningkatkan keakuratan data.
Beberapa teknologi auto-ID, seperti sistem
barcode, membutuhkan seseorang untuk secara manual memindai label atau tag
untuk menangkap data. RFID dirancang untuk memungkinkan alat pembaca untuk
menangkap data pada tag dan mengirimkan ke sistem komputer tanpa perlu orang
untuk terlibat.
I.3.2
Komponen-komponen Dalam Sistem RFID
Ada beberapa komponen yang diperlukan agar
sistem yang menggunakan RFID dapat berjalan.
I.3.2.1
Tag
Tag adalah sebuah perangkat
radio kecil yang
juga disebut sebagai
transponder, smart tag, smart label atau barcode radio. Tag ini
terdiri dari sebuah microchip silikon sederhana (biasanya
kurang dari setengah
milimeter dalam ukuran)
yang melekat pada flat kecil udara dan dipasang pada substrat. (RFID Centre, 2011). Selain itu masing-masing tag
memiliki ID yang unik.
Tag RFID mengandung setidaknya dua bagian. Salah
satunya adalah sebuah sirkuit terintegrasi (chip) untuk menyimpan dan
memproses informasi, modulasi dan demodulating sebuah frekuensi radio (RF)
sinyal, dan fungsi-fungsi khusus lainnya. Yang lainnya adalah antena untuk
menerima dan mengirimkan sinyal.
Gambar 1.1 Tag RFID
Antena ini yang memungkinkan tag
ini dibaca oleh reader secara contactless. Semakin besar antena maka
bisa semakin jauh jarak reader dan tag tersebut Sedangkan chip
bertugas menyimpan nomor ID dan informasi lainnya. Chip ini dapat berupa read-only (hanya dapat dibaca saja, tidak
bisa menulis informasi lain di tag ini), read-write (tag bisa
dibaca tulis berkali-kali) atau write-once
read-many (hanya bisa ditulis sekali tetapi dapat dibaca berkali-kali).
Tag RFID ini bentuknya bermacam-macam tergantung
kebutuhan. Misalnya untuk buku dapat dipakai tag kotak dengan ukuran
5x5cm. Untuk CD/VCD dapat dipakai tag
berbentuk bundar yang bisa ditempelkan di tengah keping CD/VCD. Untuk
ditempelkan pada kaset VHS, tag
RFID ini dapat berbentuk empat persegi panjang. Selain itu terdapat tag
khusus, misalnya tag untuk tracking buah-buahan, tag yang bisa
ditanam di bawah kulit dan lain-lain.
Gambar 1.2 Rol Tag RFID
I.3.2.2
Electronic
Article Surveillance (EAS)
EAS adalah teknologi yang digunakan
untuk mengidentifikasi sebuah barang ketika barang tersebut melewati suatu gerbang pendeteksi (gate). Biasanya hal ini
digunkan untuk alarm peringatan jika seseorang membawa barang keluar misalnya
dari toko, perpustakaan dan lain-lain. (AIM, 2011)
Ada beberapa jenis sistem EAS. Dalam
setiap kasus, tag EAS tag atau label ditempelkan pada suatu barang. Tag
tersebut kemudian dinonaktifkan ketika barang tersebut dibeli (atau dipinjam).
Ketika barang tersebut dibawa keluar melaui pintu gerbang pendeteksi (Anti-Theft gate), maka gate tersebut
dapat membaca EAS pada tag dalam keadaan aktif atau nonaktif dan dapat
mengeluarkan suara alarm jika diperlukan.
I.3.2.3
Tag Reader
Selain tag juga diperlukan alat
yang berfungsi untuk membaca tag tersebut. Alat ini dapat dinamakan tag
reader. Reader ini dapat membaca ID unik yang terdapat pada
masing-masing tag. Selain itu walaupun namanya reader, tetapi
alat ini juga dapat menuliskan informasi ke tag.
Seperti tag, reader ini juga
mempunyai antena. Antena ini yang berfungsi untuk berkomunikasi dengan tag.
Ketika reader memancarkan gelombang radio, seluruh tag yang
berada dalam jarak pancar reader tersebut dan mempunyai frekuensi yang
sama dengan reader tersebut akan memberikan respon. Jadi komunikasi
antara reader dan tag tidak perlu terjadi kontak fisik
(contactless), bahkan dapat melewati penghalang, semisal kertas, kayu, dan
lainnya.
Gambar 1.x Tag/Book Reader
Untuk pembahasan berikutnya tag reader
ini akan disebut book reader.
I.3.2.4
Wireless
Handheld RFID Reader
Wireless handheld RFID reader ini mempunyai prinsip dan cara kerja yang
sama seperti tag reader. Perbedaannya adalah kalau tag reader
harus dihubungkan dengan komputer, sedangkan kalau wireless handheld reader
adalah suatu alat/device seperti PDA (Personal Digital Assistant)
berbasis Windows Mobile, dengan modul khusus RFID reader.

Gambar 1.x Wireless handheld RFID reader
I.3.2.5
RFID Card
Kartu RFID adalah sebuah kartu yang
didalamnya terdapat chip RFID dan antenanya. Kartu ini dapat berupa kartu tanda
pengenal dosen/mahasiswa.


Gambar 1.3 Kartu RFID
Jadi kartu ini selain sebagai tanda
pengenal juga berfungsi sebagai kartu RFID. Sebagai kartu RFID, maka kartu ini
juga mempunyai ID unik yang berbeda untuk masing-masing kartu.
I.3.2.6
Card Reader
Selain tag reader, juga
terdapat card reader. Fungsi card reader ini sama
seperti tag reader, yaitu dapat membaca informasi yang ada pada
kartu RFID. Juga pembacaan kartu RFID oleh card reader ini secara
contactless.
Kartu RFID hanya perlu didekatkan ke area
jangkauan card reader, maka kartu akan memberikan respon sesuai
yang diminta card reader.

Gambar 1.4 Card Reader
I.3.2.7
Anti-Theft
Gate
Anti-Theft Gate adalah sebuah gate (gerbang)
yang mempunyai sensor untuk membaca suatu kode keamanan pada tag RFID
yang melewati gate tersebut. Jika kode keamanan pada tag RFID
aktif, maka alarm pada gate akan menyala, dan sebaliknya.

Gambar 1.5 Anti-Theft Gate
II.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan metode sebagai
berikut:
·
Metode
deskriptif analisis yaitu dengan menganalisa dan mengidentifikasi masalah yang
muncul sehubungan dengan
penerapan sistem RFID.
·
Studi
kepustakaan yaitu pengumpulan informasi melalui buku-buku di perpustakaan
maupun artikel-artikel di internet.
Pelaksanaan penelitian dilakukan di
Perpustakaan Universitas Bina Nusantara Jakarta.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Selama ini perpustakaan menggunakan barcode
dan barcode reader untuk metode pelacakan buku, majalah, CD,
jurnal dan lain-lain. Penerapan dengan menggunakan barcode mempunyai beberapa kekurangan diantaranya :
-
Penambahan suatu system pengamanan lain pada buku
sebagai system keamanan buku di perpustakaan
-
Dengan penambahan system ini otomatis akan menambah
waktu layanan karena harus menonaktifkan pengaman setelah proses peminjaman
buku selesai.
-
Barcode pada
media buku seiring berjalannya waktu terkadang harus dicetak ulang dan kemudian ditempelkan kembali pada
buku karena barcode ini terkadang rusak dan tidak bisa dibaca oleh barcode reader.
Karena itu teknologi RFID sekarang sudah
banyak dipakai di perustakaan-perpustakaan untuk menggantikan barcode.
Beberapa kelebihan penggunaan RFID antara
lain :
-
Dapat
mengindentifikasi buku secara cepat dan akurat.
-
Dapat
mengurangi jumlah petugas yang digunakan dalam mengindentifikasi buku.
-
Buku yang telah dipinjam secara otomotis
keamanannya langsung diaktifkan.
-
Tag
RFID mampu mengidentifikasi secara simultan (bersamaan), tanpa harus berada
dalam jarak dekat (untuk mendukung aktivitas multiple check-in, check-out,
shelf-inventories)
-
Tag
RFID mampu mengidentifikasi menembus berbagai objek seperti plastic, kertas
atau kayu
-
Tag
RFID bisa dibaca dan ditulis berulang-ulang
Walaupun dengan segala
kelebihannya, sebenarnya penggunaan RFID secara umum juga mempunyai kekurangan.
Beberapa kekurangan penggunaan RFID antara lain :
- Cost : label RFID berharga lebih mahal
- Moisture : gelombang radio mungkin bisa terserap oleh
uap air dalam produknya atau pada lingkungan sekitar.
- Gelombang
radio dapat terpantul oleh logam disekitarnya
- Electrical interference : gangguan elektronik ( misal dari
lampu pijar atau motor listrik ) yang dapat mengganggu komunikasi
frekuensi radio.
- Accuracy : terkadang reader tidak mudah untuk membaca satu label dari banyak
label lainnya di dalam jangkauannya.
- Security : label yang dapat diperbaruhi sangatlah
berguna, tapi pastikan update telah
dilakukan oleh pihak yang berwenang adalah penting.
Beberapa
kelemahan lain dari penggunaan RFID adalah masalah privasi diantaranya:
-
Buku yang dilengkapi dengan RFID tag keberadaan RFID
tag nya tidak diketahui oleh peminjam dan terkadang mengganggu.
-
RFID tag dapat dibaca oleh pihak yang tidak bertanggung
jawab dalam jarak yang cukup jauh tanpa sepengetahun pemiliknya.
Penerapan sistem RFID ini dimulai dengan
pemasangan tag RFID untuk semua buku dan lain sebagainya. Kemudian tag
ID masing-masing dimasukkan ke database buku sesuai dengan kode buku.
Misalnya sebagai berikut (database lama menjadi database baru
dengan RFID):
Tabel 3.1 Database buku lama
No Induk Buku
|
Judul Buku
|
123123
|
Akuntansi 1
|
456456
|
Computer Network
|
789789
|
Secret Bunker
|
Tabel 3.2 Database buku baru
Tag ID
|
No Induk Buku
|
Judul Buku
|
1a2b3c
|
123123
|
Akuntansi 1
|
4d5e6f
|
456456
|
Computer Network
|
7g8h9i
|
789789
|
Secret Bunker
|
Selain pemasangan tag pada
masing-masing buku, kartu mahasiswa dan dosen juga diganti dengan kartu
berbasis RFID. Seperti juga database buku, database mahasiswa dan
dosen juga perlu diperbaharui dengan menambahkan ID kartu.
Tabel 3.3 Database mahasiswa/dosen
lama
No Induk Mahasiswa/Dosen
|
Nama
|
111111
|
Andi
|
222222
|
Budi
|
333333
|
Chacha
|
Tabel 3.4 Database mahasiswa/dosen
baru
Tag ID Kartu
|
No Induk Mahasiswa/Dosen
|
Nama
|
11a22b
|
111111
|
Andi
|
33c44d
|
222222
|
Budi
|
55e66f
|
333333
|
Chacha
|
Kartu dengan basis RFID ini nantinya tidak
hanya bisa digunakan untuk meminjam buku di perpustakaan, tapi dapat juga
diaplikasikan untuk absensi mahasiswa saat akan mengikuti perkuliahan.
Banyak keuntungan yg didapatkan dengan
penggunaan sistem RFID untuk perpustakaan dibandingkan dengan penggunaan sistem
barcode.
III.1 Modul anti pencurian
Ada suatu lokasi pada tag RFID yang
disebut EAS (Electronic Article Surveylance) yang dapat ditulis atau
dihapus. Dengan adanya EAS dan Anti-Theft Gate, maka akan
tercipta sistem anti maling untuk koleksi perpustakaan.
Cara kerja sistem ini adalah, sebelum tag
RFID ditempelkan pada buku baru, maka oleh sistem pendataan buku EAS tag
tersebut akan dituliskan kode tertentu. Jika tag RFID dengan EAS terisi
kode melewati sensor Anti-Theft Gate, maka akan menyebabkan alarm
pada gate tersebut berbunyi. Dan sebaliknya jika isi dari EAS dihapus,
maka tag RFID yang melewati sensor Anti-Theft Gate tidak
akan men-trigger alarm pada gate tersebut.

Gambar 3.x Anti-Theft Gate
III.2 Proses
sirkulasi yang lebih cepat
Dengan sistem RFID, petugas perpustakaan
tinggal meletakkan buku-buku yang akan dipinjam di book reader,
dan kartu pengguna ke card reader. Tidak menjadi masalah dengan
posisi buku. Berbeda dengan sistem barcode dimana barcode reader
harus diarahkan ke barcode buku. Selain itu book reader
juga dapat membaca setumpukan buku dalam waktu bersamaan. Hal ini akan
mempercepat proses sirkulasi dimana jika pengguna perpustakaan ingin meminjam
beberapa buku sekaligus.
Setelah petugas meletakkan buku dan kartu
ke reader, petugas akan melakukan pendataan peminjaman buku melaui
aplikasi peminjaman buku. Aplikasi akan otomatis mendata peminjam dan buku yang
dipinjamnya ke sistem. Aplikasi juga akan secara otomatis mematikan kode
keamanan pada tag RFID buku, agar saat buku dibawa keluar tidak
menghidupkan sistem alarm.

Gambar 3.x Sirkulasi
III.3 Self Auto-borrow
Dengan sistem RFID ini, dimana setiap buku
ditempel dengan RFID tag, dan setiap pengguna perpustakaan (mahasiswa dan
dosen) mempunyai kartu identitas yang berjenis RFID card, maka pengguna
dapat melakukan peminjaman buku mandiri, tanpa melalui petugas.
Auto-borrow ini dapat dilaksanakan dengan
sebuah aplikasi khusus yang di-install pada sebuah komputer yang sudah dilengkapi
dengan card reader dan book reader.
Mahasiswa atau dosen yang ingin meminjam
buku meletakkan kartu anggota pada card reader dan buku yang akan
dipinjamnya ke book reader. Pada layar komputer otomatis akan
ditampilkan nama peminjam dan judul buku yang akan dipinjamnya. Dengan
digunakannya komputer dengan layar sentuh, maka peminjam buku tersebut cukup
menekan tombol “Submit” pada layar komputer untuk memroses peminjaman buku.
Aplikasi akan mendata transaksi peminjaman buku ke server dan mematikan kode
keamanan. Jika berhasil aplikasi auto-borrow akan menampilkan
informasi bahwa buku sudah berhasil dipinjam dan informasi tentang tanggal
harus dikembalikannya buku tersebut.

Gambar 3.x Self Auto-borrow
III.4 Book Drop
Selain melakukan peminjaman buku secara
mandiri melalui sistem auto-borrow, peminjam buku juga dapat
melakukan pengembalian buku secara mandiri.
Hal ini dapat dilakukan melalui sebuah
mesin yang bernama Book-Drop. Book-Drop ini berupa
suatu kotak yang dilengkapi dengan komputer, book reader, card
reader dan peralatan mekanik untuk mengambil buku.
Pengguna perpustakaan yang ingin
mengembalikan buku, tinggal meletakkan/memasukkan buku pada sebuah lubang pada
mesin Book-Drop. Mesin ini lalu akan menarik buku dan membaca tag
RFID pada buku tersebut, mendatakan pada database bahwa buku tersebut
telah dikembalikan, menyimpan buku pada kotak penyimpanan didalam mesin Book-Drop
dan memberi notifikasi kepada pengguna dengan menampilkan informasi bahwa buku
tersebut telah berhasil dikembalikan dan sudah dicatat.
Salah satu kelemahan penerapan
Book-Drop di perpustakan adalah
masalah culture. Para peminjam buku
terkadang kurang bertanggungjawab terhadap keadaan buku ketika dikembalikan.
Ketika mereka mengembalikan buku dalam keadaan rusak/tidak sempurna dan
sebagainya, ketika petugas perpustakaan meminta pertangungjawabannya, maka
peminjam sering berkelit dan membantah atas kerusakan buku tersebut. Mereka
beralasan pada waktu mereka mengembalikan buku tersebut pada book-drop dalam keadaan baik. Bisa saja
menurut mereka buku tersebut rusak ketika berada didalam kotak drop-book atau rusak ditempat lain bukan
karena peminjam.

III.5 Stock opname
Hal lain yang menjadi lebih mudah setelah
diimplementasikannya RFID adalah stock opname buku.
Jika buku hanya menggunakan barcode,
maka proses stock opname dilakukan dengan cara memindahkan buku satu
persatu untuk discan barcodenya. Tetapi dengan adanya RFID, buku tidak
perlu dipindahkan dari rak buku. Dengan menggunakan Wireless Handheld
RFID reader, maka buku-buku tersebut dapat discan dengan cepat. Hasil
yang didapat akan dicocokkan dengan data master buku untuk mengetahui apakah
ada buku yang hilang.

Gambar 3.x Stock Opname
IV. SIMPULAN DAN SARAN
Dari
hasil penelitian tentang penerapan RFID di perpustakaan Universitas Bina
Nusantara ini dapat disimpulkan beberapa keuntungan/kelebihan yang
didapatkan sebagai berikut:
a. Dengan diimplementasikannya RFID pada
perpustakaan akan mempercepat proses peminjaman, sirkulasi dan stock opname dibanding menggunan
barcode system.
b. Dengan RFID tag pada masing-masing buku
dan RFID card untuk pengguna dapat dibuat sistem auto-borrow dan book-drop.
Yang membuat pengguna perpustakaan dapat meletakan peminjaman/pengembalian buku secara mandiri.
c. Tag RFID lebih tahan digunakan
berkali-kali dibanding barcode yang
bisa rusak seiring berjalannya waktu.
V. DAFTAR PUSTAKA
RFID Centre http://www.rfidc.com/docs/introductiontorfid_technology.htm

No comments:
Post a Comment