Friday, October 24, 2014

Penerapan Teknologi RFID Untuk Perpustakaan Universitas:Studi Kasus di Library Knowledge Center Universitas Bina Nusantara

Penerapan Teknologi RFID Untuk Perpustakaan Universitas: Studi Kasus di Library Knowledge Center Universitas Bina Nusantara


Rony Baskoro Lukito, Deddy Arifin, Cahya Lukito

Program Studi Ilmu Komputer, Universitas Bina Nusantara
Jl. Kebun Jeruk Raya 27 Jakarta Barat 11530

Abstrak
RFID (Radio Frequency Identification) merupakan proses pengidentifikasian suatu objek secara dengan frekuensi radio. Ada dua komponen penting dalam sistem RFID yaitu kartu/label (Tag) dan pembaca (Reader). Pada masing-masing tag terdapat ID yang berbeda-beda (unik). Selain ID, pada tag juga terdapat suatu blok yang digunakan untuk keamanan. Pada aplikasinya di perpustakaan, semua buku yang akan dibaca oleh reader ditempel tag. Dengan adanya tag pada masing-masing buku dan tag pada kartu anggota perpustakaan, maka dapat dibuat sebuah aplikasi yang memungkinkan untuk pengguna meminjam sendiri buku-buku yang diinginkan tanpa melalui petugas. Aplikasi akan langsung mencatat ID peminjam, ID buku, dan otomatis mematikan kode pengaman agar buku dapat dibawa keluar perpustakaan tanpa mengaktifkan alarm.

Kata kunci: RFID, tag, reader, self-service, layanan perpustakaan



I.            PENDAHULUAN

I.1           Latar Belakang

Dengan berkembangnya ICT (Information and Communication Technology) dengan pesat, ICT dapat diterapkan ke hampir semua kegiatan yang ada. Salah satunya adalah penerapan ICT pada perpustakaan.
            Salah satu penerapan ICT di perpustakaan adalah dalam hal stock opname buku. Stock opname ini perlu dilakukan agar dosen dan mahasiswa mendapatkan informasi yang benar tentang jumlah buku di perpustakaan. Karena semua buku di perpustakaan sudah terintegrasi dengan sistem RFID, stock opname pun dilaksanakan dengan membaca tag RFID yang berada di setiap buku. Hasil pembacaan dicatat dan dibandingkan dengan data master buku yang ada di database. Jika ada buku di master buku di database dan tidak ada di daftar buku yang dipinjam dan tidak ada di daftar buku hasil stock opname, maka buku tersebut dinyatakan hilang.
           


I.2           Rumusan Masalah

Salah satu masalah yang ada pada perpustakaan sekarang ini adalah pada saat stock-opname buku.
Untuk mewujudkan hal ini maka perpustakaan harus didukung oleh pemanfaatan ICT pada sistem peminjaman dan pengembalian buku.
.

I.3           Tinjauan Pustaka

Berikut ini akan dijelaskan mengenai teknologi RFID yang digunakan untuk otomasi layanan sirkulasi di perpustakaan.

I.3.1         RFID (Radio Frequency Identification)

RFID (Radio Frequency Identification) atau Identifikasi Frekuensi Radio adalah istilah generik yang digunakan untuk menggambarkan sebuah sistem yang mentransmisikan identitas (dalam bentuk nomor seri yang unik) dari suatu obyek atau orang tanpa kabel, menggunakan gelombang radio. (RFID Journal, 2011)
Teknologi Auto-ID ini termasuk barcode, pembaca karakter optik dan beberapa teknologi biometrik, seperti scan retina. Teknologi auto-ID telah digunakan untuk mengurangi jumlah waktu dan kerja yang diperlukan untuk menginput data secara manual dan untuk meningkatkan keakuratan data.
Beberapa teknologi auto-ID, seperti sistem barcode, membutuhkan seseorang untuk secara manual memindai label atau tag untuk menangkap data. RFID dirancang untuk memungkinkan alat pembaca untuk menangkap data pada tag dan mengirimkan ke sistem komputer tanpa perlu orang untuk terlibat.

I.3.2          Komponen-komponen Dalam Sistem RFID

Ada beberapa komponen yang diperlukan agar sistem yang menggunakan RFID dapat berjalan.

I.3.2.1       Tag

Tag adalah sebuah perangkat radio kecil yang juga disebut sebagai transponder, smart tag, smart label atau barcode radio. Tag ini terdiri dari sebuah microchip silikon sederhana (biasanya kurang dari setengah milimeter dalam ukuran) yang melekat pada flat kecil udara dan dipasang pada substrat. (RFID Centre, 2011). Selain itu masing-masing tag memiliki ID yang unik.
Tag RFID mengandung setidaknya dua bagian. Salah satunya adalah sebuah sirkuit terintegrasi (chip) untuk menyimpan dan memproses informasi, modulasi dan demodulating sebuah frekuensi radio (RF) sinyal, dan fungsi-fungsi khusus lainnya. Yang lainnya adalah antena untuk menerima dan mengirimkan sinyal.

Gambar 1.1 Tag RFID

Antena ini yang memungkinkan tag ini dibaca oleh reader secara contactless. Semakin besar antena maka bisa semakin jauh jarak reader dan tag tersebut Sedangkan chip bertugas menyimpan nomor ID dan informasi lainnya. Chip ini dapat berupa read-only (hanya dapat dibaca saja, tidak bisa menulis informasi lain di tag ini), read-write (tag bisa dibaca tulis berkali-kali) atau write-once read-many (hanya bisa ditulis sekali tetapi dapat dibaca berkali-kali).
Tag RFID ini bentuknya bermacam-macam tergantung kebutuhan. Misalnya untuk buku dapat dipakai tag kotak dengan ukuran 5x5cm. Untuk CD/VCD dapat dipakai tag berbentuk bundar yang bisa ditempelkan di tengah keping CD/VCD. Untuk ditempelkan pada kaset VHS, tag RFID ini dapat berbentuk empat persegi panjang. Selain itu terdapat tag khusus, misalnya tag untuk tracking buah-buahan, tag yang bisa ditanam di bawah kulit dan lain-lain.

Gambar 1.2 Rol Tag RFID

I.3.2.2       Electronic Article Surveillance (EAS)

EAS adalah teknologi yang digunakan untuk mengidentifikasi sebuah barang ketika barang tersebut melewati suatu gerbang pendeteksi (gate). Biasanya hal ini digunkan untuk alarm peringatan jika seseorang membawa barang keluar misalnya dari toko, perpustakaan dan lain-lain. (AIM, 2011)
Ada beberapa jenis sistem EAS. Dalam setiap kasus, tag EAS tag atau label ditempelkan pada suatu barang. Tag tersebut kemudian dinonaktifkan ketika barang tersebut dibeli (atau dipinjam). Ketika barang tersebut dibawa keluar melaui pintu gerbang pendeteksi (Anti-Theft gate), maka gate tersebut dapat membaca EAS pada tag dalam keadaan aktif atau nonaktif dan dapat mengeluarkan suara alarm jika diperlukan.

I.3.2.3       Tag Reader

Selain tag juga diperlukan alat yang berfungsi untuk membaca tag tersebut. Alat ini dapat dinamakan tag reader. Reader ini dapat membaca ID unik yang terdapat pada masing-masing tag. Selain itu walaupun namanya reader, tetapi alat ini juga dapat menuliskan informasi ke tag.
Seperti tag, reader ini juga mempunyai antena. Antena ini yang berfungsi untuk berkomunikasi dengan tag. Ketika reader memancarkan gelombang radio, seluruh tag yang berada dalam jarak pancar reader tersebut dan mempunyai frekuensi yang sama dengan reader tersebut akan memberikan respon. Jadi komunikasi antara reader dan tag tidak perlu terjadi kontak fisik (contactless), bahkan dapat melewati penghalang, semisal kertas, kayu, dan lainnya.
Gambar 1.x Tag/Book Reader

Untuk pembahasan berikutnya tag reader ini akan disebut book reader.

I.3.2.4       Wireless Handheld RFID Reader

Wireless handheld RFID reader ini mempunyai prinsip dan cara kerja yang sama seperti tag reader. Perbedaannya adalah kalau tag reader harus dihubungkan dengan komputer, sedangkan kalau wireless handheld reader adalah suatu alat/device seperti PDA (Personal Digital Assistant) berbasis Windows Mobile, dengan modul khusus RFID reader.

Gambar 1.x Wireless handheld RFID reader

I.3.2.5       RFID Card

Kartu RFID adalah sebuah kartu yang didalamnya terdapat chip RFID dan antenanya. Kartu ini dapat berupa kartu tanda pengenal dosen/mahasiswa.
Gambar 1.3 Kartu RFID

Jadi kartu ini selain sebagai tanda pengenal juga berfungsi sebagai kartu RFID. Sebagai kartu RFID, maka kartu ini juga mempunyai ID unik yang berbeda untuk masing-masing kartu.

I.3.2.6       Card Reader

Selain tag reader, juga terdapat card reader. Fungsi card reader ini sama seperti tag reader, yaitu dapat membaca informasi yang ada pada kartu RFID. Juga pembacaan kartu RFID oleh card reader ini secara contactless.
Kartu RFID hanya perlu didekatkan ke area jangkauan card reader, maka kartu akan memberikan respon sesuai yang diminta card reader.
Gambar 1.4 Card Reader

I.3.2.7       Anti-Theft Gate

Anti-Theft Gate adalah sebuah gate (gerbang) yang mempunyai sensor untuk membaca suatu kode keamanan pada tag RFID yang melewati gate tersebut. Jika kode keamanan pada tag RFID aktif, maka alarm pada gate akan menyala, dan sebaliknya.

Gambar 1.5 Anti-Theft Gate

II.            Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan metode sebagai berikut:
·         Metode deskriptif analisis yaitu dengan menganalisa dan mengidentifikasi masalah yang muncul sehubungan dengan penerapan sistem RFID.
·         Studi kepustakaan yaitu pengumpulan informasi melalui buku-buku di perpustakaan maupun artikel-artikel di internet.
Pelaksanaan penelitian dilakukan di Perpustakaan Universitas Bina Nusantara Jakarta.

III.            HASIL DAN PEMBAHASAN


Selama ini perpustakaan menggunakan barcode dan barcode reader untuk metode pelacakan buku, majalah, CD, jurnal dan lain-lain. Penerapan dengan menggunakan barcode mempunyai beberapa kekurangan diantaranya :
-          Penambahan suatu system pengamanan lain pada buku sebagai system keamanan buku di perpustakaan
-          Dengan penambahan system ini otomatis akan menambah waktu layanan karena harus menonaktifkan pengaman setelah proses peminjaman buku selesai.
-          Barcode pada media buku seiring berjalannya waktu terkadang harus dicetak  ulang dan kemudian ditempelkan kembali pada buku karena barcode ini terkadang rusak dan tidak bisa dibaca oleh barcode reader.
Karena itu teknologi RFID sekarang sudah banyak dipakai di perustakaan-perpustakaan untuk menggantikan barcode.
Beberapa kelebihan penggunaan RFID antara lain :
-          Dapat mengindentifikasi buku secara cepat dan akurat.
-          Dapat mengurangi jumlah petugas yang digunakan dalam mengindentifikasi buku.
-          Buku yang telah dipinjam secara otomotis keamanannya langsung diaktifkan.
-          Tag RFID mampu mengidentifikasi secara simultan (bersamaan), tanpa harus berada dalam jarak dekat (untuk mendukung aktivitas multiple check-in, check-out, shelf-inventories)
-          Tag RFID mampu mengidentifikasi menembus berbagai objek seperti plastic, kertas atau kayu
-          Tag RFID bisa dibaca dan ditulis berulang-ulang
Walaupun dengan segala kelebihannya, sebenarnya penggunaan RFID secara umum juga mempunyai kekurangan. Beberapa kekurangan penggunaan RFID antara lain :
  • Cost : label RFID berharga lebih mahal
  • Moisture : gelombang radio mungkin bisa terserap oleh uap air dalam produknya atau pada lingkungan sekitar.
  • Gelombang radio dapat terpantul oleh logam disekitarnya
  • Electrical interference : gangguan elektronik ( misal dari lampu pijar atau motor listrik ) yang dapat mengganggu komunikasi frekuensi radio.
  • Accuracy : terkadang reader tidak mudah untuk membaca satu label dari banyak label lainnya di dalam jangkauannya.
  • Security : label yang dapat diperbaruhi sangatlah berguna, tapi pastikan update telah dilakukan oleh pihak yang berwenang adalah penting.
Beberapa kelemahan lain dari penggunaan RFID adalah masalah privasi diantaranya:
-          Buku yang dilengkapi dengan RFID tag keberadaan RFID tag nya tidak diketahui oleh peminjam dan terkadang mengganggu.
-          RFID tag dapat dibaca oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dalam jarak yang cukup jauh tanpa sepengetahun pemiliknya.
Penerapan sistem RFID ini dimulai dengan pemasangan tag RFID untuk semua buku dan lain sebagainya. Kemudian tag ID masing-masing dimasukkan ke database buku sesuai dengan kode buku. Misalnya sebagai berikut (database lama menjadi database baru dengan RFID):

Tabel 3.1 Database buku lama
No Induk Buku
Judul Buku
123123
Akuntansi 1
456456
Computer Network
789789
Secret Bunker

Tabel 3.2 Database buku baru
Tag ID
No Induk Buku
Judul Buku
1a2b3c
123123
Akuntansi 1
4d5e6f
456456
Computer Network
7g8h9i
789789
Secret Bunker

Selain pemasangan tag pada masing-masing buku, kartu mahasiswa dan dosen juga diganti dengan kartu berbasis RFID. Seperti juga database buku, database mahasiswa dan dosen juga perlu diperbaharui dengan menambahkan ID kartu.

Tabel 3.3 Database mahasiswa/dosen lama
No Induk Mahasiswa/Dosen
Nama
111111
Andi
222222
Budi
333333
Chacha

Tabel 3.4 Database mahasiswa/dosen baru
Tag ID Kartu
No Induk Mahasiswa/Dosen
Nama
11a22b
111111
Andi
33c44d
222222
Budi
55e66f
333333
Chacha

Kartu dengan basis RFID ini nantinya tidak hanya bisa digunakan untuk meminjam buku di perpustakaan, tapi dapat juga diaplikasikan untuk absensi mahasiswa saat akan mengikuti perkuliahan.
Banyak keuntungan yg didapatkan dengan penggunaan sistem RFID untuk perpustakaan dibandingkan dengan penggunaan sistem barcode.

III.1     Modul anti pencurian

Ada suatu lokasi pada tag RFID yang disebut EAS (Electronic Article Surveylance) yang dapat ditulis atau dihapus. Dengan adanya EAS dan Anti-Theft Gate, maka akan tercipta sistem anti maling untuk koleksi perpustakaan.
Cara kerja sistem ini adalah, sebelum tag RFID ditempelkan pada buku baru, maka oleh sistem pendataan buku EAS tag tersebut akan dituliskan kode tertentu. Jika tag RFID dengan EAS terisi kode melewati sensor Anti-Theft Gate, maka akan menyebabkan alarm pada gate tersebut berbunyi. Dan sebaliknya jika isi dari EAS dihapus, maka tag RFID yang melewati sensor Anti-Theft Gate tidak akan men-trigger alarm pada gate tersebut.

Gambar 3.x Anti-Theft Gate

III.2     Proses sirkulasi yang lebih cepat

Dengan sistem RFID, petugas perpustakaan tinggal meletakkan buku-buku yang akan dipinjam di book reader, dan kartu pengguna ke card reader. Tidak menjadi masalah dengan posisi buku. Berbeda dengan sistem barcode dimana barcode reader harus diarahkan ke barcode buku. Selain itu book reader juga dapat membaca setumpukan buku dalam waktu bersamaan. Hal ini akan mempercepat proses sirkulasi dimana jika pengguna perpustakaan ingin meminjam beberapa buku sekaligus.
Setelah petugas meletakkan buku dan kartu ke reader, petugas akan melakukan pendataan peminjaman buku melaui aplikasi peminjaman buku. Aplikasi akan otomatis mendata peminjam dan buku yang dipinjamnya ke sistem. Aplikasi juga akan secara otomatis mematikan kode keamanan pada tag RFID buku, agar saat buku dibawa keluar tidak menghidupkan sistem alarm.

Gambar 3.x Sirkulasi

III.3     Self Auto-borrow

Dengan sistem RFID ini, dimana setiap buku ditempel dengan RFID tag, dan setiap pengguna perpustakaan (mahasiswa dan dosen) mempunyai kartu identitas yang berjenis RFID card, maka pengguna dapat melakukan peminjaman buku mandiri, tanpa melalui petugas.
Auto-borrow ini dapat dilaksanakan dengan sebuah aplikasi khusus yang di-install pada sebuah komputer yang sudah dilengkapi dengan card reader dan book reader.
Mahasiswa atau dosen yang ingin meminjam buku meletakkan kartu anggota pada card reader dan buku yang akan dipinjamnya ke book reader. Pada layar komputer otomatis akan ditampilkan nama peminjam dan judul buku yang akan dipinjamnya. Dengan digunakannya komputer dengan layar sentuh, maka peminjam buku tersebut cukup menekan tombol “Submit” pada layar komputer untuk memroses peminjaman buku. Aplikasi akan mendata transaksi peminjaman buku ke server dan mematikan kode keamanan. Jika berhasil aplikasi auto-borrow akan menampilkan informasi bahwa buku sudah berhasil dipinjam dan informasi tentang tanggal harus dikembalikannya buku tersebut.

Gambar 3.x Self Auto-borrow

III.4     Book Drop

Selain melakukan peminjaman buku secara mandiri melalui sistem auto-borrow, peminjam buku juga dapat melakukan pengembalian buku secara mandiri.
Hal ini dapat dilakukan melalui sebuah mesin yang bernama Book-Drop. Book-Drop ini berupa suatu kotak yang dilengkapi dengan komputer, book reader, card reader dan peralatan mekanik untuk mengambil buku.
Pengguna perpustakaan yang ingin mengembalikan buku, tinggal meletakkan/memasukkan buku pada sebuah lubang pada mesin Book-Drop. Mesin ini lalu akan menarik buku dan membaca tag RFID pada buku tersebut, mendatakan pada database bahwa buku tersebut telah dikembalikan, menyimpan buku pada kotak penyimpanan didalam mesin Book-Drop dan memberi notifikasi kepada pengguna dengan menampilkan informasi bahwa buku tersebut telah berhasil dikembalikan dan sudah dicatat.
Salah satu kelemahan penerapan Book-Drop di perpustakan adalah masalah culture. Para peminjam buku terkadang kurang bertanggungjawab terhadap keadaan buku ketika dikembalikan. Ketika mereka mengembalikan buku dalam keadaan rusak/tidak sempurna dan sebagainya, ketika petugas perpustakaan meminta pertangungjawabannya, maka peminjam sering berkelit dan membantah atas kerusakan buku tersebut. Mereka beralasan pada waktu mereka mengembalikan buku tersebut pada book-drop dalam keadaan baik. Bisa saja menurut mereka buku tersebut rusak ketika berada didalam kotak drop-book atau rusak ditempat lain bukan karena peminjam.

III.5     Stock opname

Hal lain yang menjadi lebih mudah setelah diimplementasikannya RFID adalah stock opname buku.
Jika buku hanya menggunakan barcode, maka proses stock opname dilakukan dengan cara memindahkan buku satu persatu untuk discan barcodenya. Tetapi dengan adanya RFID, buku tidak perlu dipindahkan dari rak buku. Dengan menggunakan Wireless Handheld RFID reader, maka buku-buku tersebut dapat discan dengan cepat. Hasil yang didapat akan dicocokkan dengan data master buku untuk mengetahui apakah ada buku yang hilang.

Gambar 3.x Stock Opname

IV.            SIMPULAN DAN SARAN

 Dengan segala kekurangan dan keterbatasan RFID misalnya : cost, moisture, gelombang radio yang terpantul, electronic interference, accuracy, update oleh pihak yang tidak berwenang serta beberapa masalah privasi lainnya seperti keberadaan tag RFID dibuku yang kemungkinan bisa menggangu dan tag RFID yang dapat dibaca oleh pihak yang tidak bertanggungjawab dalam jarak yang cukup jauh tanpa diketahui pemiliknya.
 Dari hasil penelitian tentang penerapan RFID di perpustakaan Universitas Bina Nusantara ini dapat disimpulkan beberapa keuntungan/kelebihan yang didapatkan sebagai berikut:
a.       Dengan diimplementasikannya RFID pada perpustakaan akan mempercepat proses peminjaman, sirkulasi dan stock opname dibanding menggunan barcode system.
b.      Dengan RFID tag pada masing-masing buku dan RFID card untuk pengguna dapat dibuat sistem auto-borrow dan book-drop. Yang membuat pengguna perpustakaan dapat meletakan peminjaman/pengembalian buku secara mandiri.
c.       Tag RFID lebih tahan digunakan berkali-kali dibanding barcode yang bisa rusak seiring berjalannya waktu.




V.             DAFTAR PUSTAKA


RFID Centre http://www.rfidc.com/docs/introductiontorfid_technology.htm

Association for Automatic Indentification and Mobility http://www.aimglobal.org

RFID Journal. (2011). http://www.rfidjournal.com



No comments:

Post a Comment