Sunday, March 23, 2014

Dibalik Siti Nurbaya

         Siapa yang tidak pernah mendengar nama Siti Nurbaya. Seorang tokoh dari sebuah cerita roman karangan Marah Rusli. Bagi yang tidak tahu ceritanya, inilah garis besar dari cerita tersebut.
Cerita ini mengisahkan tentang jalinan kasih yang tak sampai antara sepasang insan yang berujung pada kawin paksa di daerah Sumatera Barat. Sang pria bernama Syamsul Bahri, selain berwajah tampan juga berasal dari keturunan orang terpandang. Bapaknya adalah seorang Penghulu yang terpandang, yakni Sutan Mahmud. Si gadis bernama Siti Nurbaya, berparas jelita, berambut panjang bak mayang terurai serta santun budinya anak dari Baginda Sulaiman. Jalinan cinta Siti dan Syamsul sangat direstui oleh kedua orang tuanya yang masih punya hubungan kekerabatan. Sutan Mahmud ayah Syamsul Bahri adalah Mamak Siti Nurbaya.
Setelah menamatkan sekolah tingkat atas, Syamsul Bahri melanjutkan sekolah calon Dokter di pulau Jawa untuk menatap masa depan yang lebih cerah. Tak terbayangkan betapa sedihnya Syamsul Bahri yang harus meninggalkan sang kekasih pujaan hati. Air mata Siti Nurbaya berlinang membasahi pipi disaat melepas kekasih hatinya di pelabuhan Teluk Bayur, dan berharap cepat kembali. Saling berkirim surat cinta adalah pengobat rindu mereka berdua.
Tahun berlalu musim berganti, musibah datang mendera keluarga Siti Nurbaya, usaha dagang ayahnya mengalami kebangkrutan, hingga jatuh miskin dan Baginda Sulaiman akhirnya jatuh sakit. Beliau akhirnya meminjam uang kepada seorang rentenir yang berbadan kurus dan suka beristri banyak bernama Datuk Maringgih. Hutang Baginda Sulaiman akhirnya bertumpuk dan berbunga pada Datuk Maringgih.
Suatu hari Datuk Maringgih pergi ke rumah Baginda Sulaiman yang sedang sakit untuk menagih piutangnya. Disanalah Datuk Maringgih terpesona melihat kecantikan Siti Nurbaya. Datuk Maringgih memaksa Baginda Sulaiman untuk menjadikan Siti Nurbaya sebagai istri mudanya kalau ayah Siti Nurbaya tak sanggup untuk membayar hutangnya.
Siti Nurbaya menolaknya, karena dia sudah punya kekasih yakni Syamsul Bahri. Tapi Siti Nurbaya tak berdaya dan akhirnya dipersunting oleh Datuk Maringgih yang berumur sebaya dengan ayahnya. Kabar tersebut sampai ke telinga Syamsul Bahri, hatinya sangat sedih dan mencoba bunuh diri.
Suatu hari Syamsul Bahri pulang ke Padang dan bertemu degan Siti Nurbaya. Datuk Maringih naik pitam dan meyebarkan fitnah yang menyudutkan Syamsul Bahri. Akhirnya ia di usir oleh ayahnya Sutan Mahmud. Syamsul Bahri kembali ke Jakarta, diam-diam ia menyamar jadi tentara kompeni Belanda, dengan nama samaran Letnan Mas.
Datuk Maringgih menjadi benci kepada Siti Nurbaya, puncaknya ia melampiaskan dendamnya dengan memberikan Lemang (salah satu makanan khas Sumatera Barat) beracun kepada pesuruhnya untuk diberikan kepada Siti Nurbaya. Siti Nurbaya menemui ajalnya setelah memakan lemang beracun kiriman Datuk Maringgih.
Pada saat tragedi Balesting (Saudagar-saudagar pribumi yang tidak mau membayar upeti/pajak dibawah pimpinan Datuk Maringgih), dikirimlah Letnan Mas oleh Kompeni ke Padang untuk menumpas para pembangkang balesting.
Terjadilah peperangan satu lawan satu antara Letnan Mas dengan Datuk Maringgih. Akhir cerita Letnan Mas yang tak lain adalah Syamsul Bahri tewas diujung pedang, bersamaan dengan Datuk Maringgih juga roboh terkena tembakan Letnan Mas.
Setelah mengetahui cerita tersebut orang akan dapat menentukan siapa yang berperan protagonis atau antagonis. Kita bisa melihat Syamsul Bahri dan Siti Nurbaya berperan sebagai tokoh protagonis dan Datuk Maringgih berperan sebagai tokoh antagonis. Tapi untuk sekarang ini marilah untuk sementara kita singkirkan penokohan-penokohan ala Aristoteles tersebut. Mari kita coba lihat cerita roman Siti Nurbaya secara keseluruhan yang kompleks.
Dalam cerita digambarkan bahwa Datuk Maringgih adalah seorang yang licik, tamak dan kejam tetapi di sisi lain Datuk Maringgih adalah seorang pejuang yang memimpin saudagar-saudagar pribumi yang tidak mau membayar upeti kepada pemerintahan Hindia Belanda. Dia berjuang melawan kebijakan-kebijakan Hindia Belanda yang merugikan rakyat. Itu berarti meskipun Datuk Maringgih adalah seorang yang licik dan tamak tetapi dia memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan pejuang yang berjuang melawan penjajah.
Syamsul Bahri meskipun kita tahu pada cerita tersebut dia digambarkan sebagai seorang pemuda yang tampan dan baik hati tetapi dia bergabung dengan kompeni untuk bisa mengalahkan datuk maringgih.
Di filmnya yang ditayangkan oleh TVRI pada tahun 1992, tokoh Datuk Maringgih diperankan oleh Alm. HIM Damsyik, Siti Nurbaya diperankan oleh Novia Kolopaking dan Syamsul Bahri diperankan oleh Gusti Randa. Di film ini pun penggambaran tokoh Datuk Maringgih yang kurus, kejam dan tamak cukup terwakili oleh Alm. Damsyik. Begitu pula dengan tokoh Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri. Namun sayang sekali di film ini kita tidak bisa melihat sisi nasionalisme ketika Datuk Maringgih yang berjuang melawan penjajah, karena latar belakang film ini telah diadaptasi pada masa film ini dibuat.
Bila kita mau menelusur lebih jauh, ada banyak cerita dalam atau luar negeri yang sebenarnya memiliki kompleksitas dalam penokohan. Tetapi sayangnya kita sering terjebak pada cara pengarang dalam menggambarkan tokoh-tokoh dalam ceritanya. Kita sering terjebak dalam pemikiran bahwa di dalam sebuah cerita pasti ada tokoh yang jahat dan yang baik. Titik. Tanpa melihat secara keseluruhan tokoh-tokoh tersebut. Padahal, seperti halnya manusia pada kehidupan nyata memiliki sisi baik dan buruk begitu juga tokoh-tokoh pada sebuah cerita entah itu roman, cerpen, legenda, dongeng, atau bahkan film.
Dalam membangun sebuah karakter tokoh di dalam sebuah cerita, seorang pengarang yang bijak tentunya menggambarkan tokoh-tokoh tersebut dengan sifat yang kompleks seperti halnya manusia.
Mungkin ada baiknya sekarang bila kita melihat segala sesuatunya tidak berdasarkan baik dan buruk. Hitam dan putih. Melainkan ada juga ada area abu-abu dimana kebanyakan manusia berada pada area tersebut.

Yogiswara Javmika
@1stjavmika

No comments:

Post a Comment