Integrasi
Tag RFID dengan Saklar Lampu untuk Aksi Pengukuran dan Penghematan Listrik
di
Ruang Kelas Bina Nusantara
(Cost
Estimation and Reduction, also Go Green Technology)
Rony Baskoro Lukito, S.Kom., M.Kom., Cahya Lukito, ST., MT., Deddy Arifin, S.Kom.
Jurusan Teknik Informatika
School of Computer Science
BINUS
UNIVERSITY
JAKARTA
2012
---------------------------------------------------------------------------------
Integrasi
Tag RFID dengan Saklar Lampu untuk Aksi Pengukuran dan Penghematan Listrik di
Ruang Kelas Bina Nusantara
(Cost Estimation and Reduction,
also Go Green Technology)
Bisa dipastikan bahawa harga listrik akan
cenderung naik seiring dengan naiknya harga bahan bakar pembangkit listrik. Hal
tersebut setidaknya akan berdampak juga Universitas Bina Nusantara. Untuk
mengantisipasi hal ini perlu dilakukan penghematan listrik, yaitu lampu
penerangan kelas. Salah satu penyebab dari sulitnya pengurangan biaya adalah
sulit diukurnya besaran penggunaan listrik di tiap ruang kelas. Dengan adanya
penelitian ini, RFID yang terintegrasi dengan RFID reader di ruang kelas akan memungkinkan Universitas Bina Nusantara
dalam pengecekan pemakaian listrik. RFID juga memungkinkan untuk melacak
pengguna listrik di kelas termaksud di dalamnya untuk menghindari kelalaian
lupa mematikan listrik). Dengan menggunakan RFID tag, estimasi rata-rata
penggunaan ruang listrik di kelas menjadi lebih terukur. Hasil pengukuran
inilah yang akan menjadi data statistik yang dapat diolah untuk melihat apakah
penerapan ini benar-benar mampu mengurangi biaya. Dengan adanya pengukuran,
maka estimasi biaya dapat tercipta. Estimasi biaya itulah yang nantinya akan
digunakan untuk cost planning. Cost planning yang dihasilkan dari estimasi
biaya tersebut kemudian pada akhirnya akan menjadi sumber referensi untuk
mengurangi biaya pemakaian listrik. Tentunya hal ini akan sangat menguntungkan
Bina Nusantara dan karyawan pada akhirnya. Karena pengurangan cost artinya dananya dapat digunakan
untuk kepentingan lain daripada terbuang sia-sia. Selain itu, hemat listrik
juga termaksud Go Green Technology yang dimana masih terus didiskusikan di
Indonesia (Khususnya PLN).
Kata Kunci: Hemat biaya, cost reduction,
RFID, listrik, lampu, cost planning
BAB I.
PENDAHULUAN
I.1
Latar Belakang
Dengan
berkembangnya ICT (Information and Communication Technology) dengan pesat, ICT
dapat diterapkan ke hampir semua kegiatan yang ada. Salah
satunya adalah penerapan ICT pada ruang kelas di Universitas Bina Nusantara, yaitu
teknologi RFID.
Permasalahannya adalah seiring dengan perkembangan jaringan yang
semakin pesat, harga listrik juga terus menerus naik. Harga listrik yang terus
menerus naik merupakan permasalahan tersendiri untuk suatu kampus terutama Bina
Nusantara.
Untuk memecahkan masalah tersebut dibutuhkan integrasi antara
perangkat listrik dan tanda pengenal.
Salah satunya adalah dengan menggunakan estimasi penggunaan listrik di
tiap ruangan kelas. Cost estimation
tersebut nantinya dapat digunakan untuk cost
planning yang nantinya menjadi data penting untuk langkah cost reduction.
Dalam kasus ini data pengenal dapat diperoleh dengan menggunakan
RFID tag yang sudah terintegrasi dengan Binusian Card yang akan dibaca oleh reader yang telah terpasang di tiap
kelas. Namun, cukup disayangkan jika penggunaan RFID Reader yang ada pada ruang
kelas saat ini masih kurang maksimal. Umumnya RFID hanya digunakan untuk
pengukuran kehadiran saja padahal masih dapat dikembangkan lebih lanjut.
Hal ini akan meningkatkan fungsi Binusian Card dan Reader RFID
secara tidak langsung, dan secara langsung menghasilkan data statistik yang
dapat digunakan untuk cost estimation
yang berakhir pada cost reduction
yang tentunya merupakan tujuan dari hampir semua perusahaan (termaksud Bina
Nusantara).
Penulisan ini bertujuan untuk melakukan efisiensi penggunaan listrik
untuk mendukung Green Technology menjadi pokok pemikiran pada saat ini.
Diharapkan, dengan menggunakan teknologi RFID, seorang Dosen atau karyawan
dapat melakukan penghematan energi listrik dengan menggunakan RFID card yang
ada untuk absensi dan untuk mengaktifasi lampu.
I.2
Rumusan
Masalah
Dengan 20000 lebih mahasiswa aktif yang tersebar di 3 kampus
Universitas Bina Nusantara, yaitu Kampus Anggrek, Kampus Syahdan dan Kampus
Kijang, maka aktivitas di kampus akan sangat padat. Terutama adalah aktivitas
belajar-mengajar tiap hari, yang menggunakan hampir semua ruang kelas yang ada.
Waktu kuliah di Universitas Bina Nusantara terdiri dari 6 shift tiap hari,
masing-masing shift perkuliahan selama 100 menit. Sedangkan jeda antara shift
selama 20 menit.
Menurut pengamatan, lampu di kelas yang digunakan untuk proses
belajar-mengajar di Kampus Anggrek Universitas Bina Nusantara akan dinyalakan
pada saat dosen masuk pukul 07:20 pagi, dan akan dimatikan pada akhir shift 6
oleh housekeeping. Hal ini dapat dirasakan sebagai pemborosan listrik karena
pada jam antara shift kuliah, ruangan tersebut biasanya tidak terpakai.
Alangkah baiknya jikalau lampu kelas pada waktu-waktu tersebut dimatikan.
Memang bisa kita sarankan pada dosen yang mengajar agar selalu
mematikan lampu saat selesai mengajar. Tetapi tetap ada kemungkinan lupanya
dosen tersebut atau alasan lain. Alangkah baiknya jika kita menggunakan ICT
untuk mengontrol lampu kelas ini. Yaitu dengan jalan menggabungkan sistem
absensi di kelas yang sudah berjalan dengan sistem pengontrolan lampu kelas.
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
Berikut
ini akan dijelaskan mengenai teknologi RFID yang digunakan untuk otomasi
layanan sirkulasi di perpustakaan.
II.1
RFID (Radio Frequency
Identification)
RFID (Radio
Frequency Identification) atau Identifikasi Frekuensi Radio adalah istilah generik yang
digunakan untuk menggambarkan
sebuah sistem yang mentransmisikan identitas (dalam bentuk nomor
seri yang unik) dari
suatu obyek atau
orang tanpa kabel, menggunakan gelombang radio.
(RFID Journal)
II.1.1
RFID Card
Kartu RFID adalah sebuah kartu yang didalamnya
terdapat chip RFID dan antenanya. Kartu ini dapat berupa kartu tanda pengenal
dosen/mahasiswa.
Jadi kartu ini selain sebagai tanda pengenal juga
berfungsi sebagai kartu RFID. Sebagai kartu RFID, maka kartu ini juga mempunyai
ID unik yang berbeda untuk masing-masing kartu. ID unik
pada kartu ini yang disimpan dalam database
server dosen/mahasiswa sesuai dengan pemiliknya.
II.1.2
Card Reader
Selain tag
reader, juga terdapat card reader.
Fungsi card reader adalah membaca informasi yang ada pada kartu RFID. Juga pembacaan kartu RFID oleh
card reader ini secara contactless.
Kartu RFID hanya perlu didekatkan ke area
jangkauan card reader, maka kartu akan memberikan respon sesuai yang diminta card reader.
II.2 Mikrokontroller MCS-51
Dikripsi umum dari Mikrokontroler adalah sebuah Integrated Circuit (IC) yang terdiri atas sebuah Central Processing Unit (CPU) disertai
dengan memory dan I/O yang dapat diprogram ulang. Pada mulanya mikrokontroler
banyak digunakan sebagai pengontrol suatu system sederhana. Dengan
berkembangnya teknologi mikrokontroller, perangkat ini dapat diterapkan untuk
sistem yang lebih rumit. Alur logika atau algoritma suatu system ditulis
dalam bahasa assembly. Program tersebut
selanjutnya di translasi ke kode mesin digital dan disimpan di dalam memory.
Berbagai turunan dari mikrokontroler dengan arsitektur MCS-51 telah
diproduksi oleh berbagai vendor. IC
ini digunakan sebagai mikrokontroler yang bersifat low cost dan high performance.
II.2.1
Arsitektur Microcontroller MCS-51
Arsitektur mikrokontroller MCS-51 merupakan salah satu arsitektur
mikrokontroler yang paling populer. (Intel Corporation, 1994) Pertama kali dibuat
oleh Intel pada tahun 1980 untuk penggunaan embedded
system. Hingga sekarang IC ini masih banyak dipakai dan dipelajari.
Seperti tampak pada gambar diatas, arsitektur mikrokontroler MCS-51
terdiri atas CPU 8 bit yang terhubung pada satu jalur bus dengan memori
penyimpanan berupa RAM dan ROM serta jalur I/O berupa port bit I/O dan port
serial. Selain itu terdapat timer/counter
internal, serta jalur interface address
dan data ke memori eksternal.
II.3 Komunikasi Serial RS-232
RS-232 adalah komunikasi serial
binary point-to-point yang
menghubungkan Data Terminal Equipment
(DTE) dan Data Circuit-terminating
Equipment (DCE). Standar ini dikeluarkan oleh Electronic Industries Association (EIA) pada tahun 1962, yaitu
mengatur besaran tegangan untuk pengiriman data 0/1, signal timing, pinout dan
konektor yang digunakan.
Aturan
yang sederhana pada RS-232 dan jumlah kabel yang tidak banyak, menyebakan
RS-232 banyak diterapkan pada komputer, modem, printer, pembaca barcode,
pembaca RFID, mesin industry dan perangkat lainnya. Minimal diperlukan 3 buah
kabel untuk pengiriman data (Transmitter), penerima data (Receiver) dan satu
buah commond ground. Bahkan untuk
komunikasi satu arah dapat menggunakan 2 buah kabel saja. Daftar pin assignment dan signaling yang lengkap dari RS-232 dengan menggunakan konektor DB-25
dapat dilihat pada table berikut ini. (RS232 (Serial/COM Line) Pin Assignments)
Signal
|
Origin
|
||||
Nama
|
Singkatan
|
||||
Transmitted Data
|
TxD
|
●
|
2
|
3
|
|
Received Data
|
RxD
|
●
|
3
|
2
|
|
Data Terminal Ready
|
DTR
|
●
|
20
|
4
|
|
Carrier Detect
|
DCD
|
●
|
8
|
1
|
|
Data Set Ready
|
DSR
|
●
|
6
|
6
|
|
Ring Indicator
|
RI
|
●
|
22
|
9
|
|
Request To Send
|
RTS
|
●
|
4
|
7
|
|
Clear To Send
|
CTS
|
●
|
5
|
8
|
|
Common Ground
|
G
|
common
|
7
|
5
|
|
Protective Ground
|
PG
|
common
|
1
|
—
|
|
BAB III.
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Listrik adalah kebutuhan setiap orang. Sampai sekarang, biaya
pemakaian listrik bisa dikatakan cukup besar. Hal tersebut akan semakin parah
jika harga bahan bakar naik.
Oleh sebab itu, pentingnya pengontrolan pemakaian listrik di setiap
ruangan khususnya ruang kelas Universitas Bina Nusantara adalah faktor utama
yang patut diperhatikan. Bijaksananya, untuk melakukan pengurangan biaya (cost reduction) maka dibutuhkan cost planning. Cost reduction sangat penting dalam perkembangan perusahaan.
Tentunya cost reduction ini merupakan
yang bersifat pengurangan biaya tidak perlu dan bukan pengurangan nilai hak
karyawan. Hemat listrik adalah salah satunya. Penghematan listrik disini adalah
dengan dimatikannya lampu-lampu kelas saat pergantian jam pelajaran.
BAB IV.
METODE PENELITIAN
Metodologi penelitian merupakan tahap – tahap
penelitian yang harus ditetapkan sebelum melaksanakan penelitian, sehingga
penelitian dapat dilakukan dengan terarah, jelas dan efisien. Untuk penelitian ini hanya difokuskan pada Kampus Anggrek
Universitas Bina Nusantara.
Adapun langkah – langkah dalam penelitian ini adalah
:
1) Penelitian
pendahuluan
Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui
masalah tidak adanya estimasi biaya padahal hal penting
tersebut adalah informasi penting yang pada akhirnya berguna untuk menciptakan cost reduction.
2) Identifikasi masalah
Setelah dilakukan penelitian maka masalah cost estimation berupa
data statistik dapat tercipta.
3) Studi pustaka
RFID adalah sebuah teknologi
yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan data dengan menggunakan frekuensi
radio antara RFID reader dan RFID card (mobile object) (Sae Sol Choi, Mun Kee Choi,
Won Jay Song, & Sang H. Son, 2005) . Untuk menerima data yang ada pada RFID
card/tag dibutuhkan sebuah reader (Sabri, Aziz, Shah, & Kadir, 2007).
4) Pengumpulan data
Wawancara pengguna listrik, studi literatur (buku, jurnal, artikel)
5) Luaran
Hasil penelitian
ini akan dipublikasikan dalam seminar.
BAB V.
HASIL DAN PEMBAHASAN
V.1 System Architecture
Arsitektur sistem pengontrol lampu terdiri atas Server Absensi,
penerima RFID, Pengontrol Lampu, dan jaringan TCP/IP. Pada tahap pertama dari
penelitian ini akan dibuat sebuah model yang memiliki fungsi dan prisip kerja
yang sama sebelum system diintegrasikan ke dalam sistem absensi yang sudah ada
saat ini.
Setiap mahasiswa, karyawan dan Dosen di Universitas Bina Nusantara
memiliki sebuah kartu ID (Binusian Card-Flazz) yang dapat dibaca oleh Penerima
RFID di dalam kelas yang digunakan untuk absensi perkuliahan. Untuk pembuatan
model akan dipergunakan kartu ID dari team penyusun. Dengan adanya sistem ini,
maka kartu tersebut dapat digunakan untuk menyalakan atau mematikan lampu yang
ada di dalam kelas berdasarkan jadwal kegiatan belajar dan mengajar.
Modul Pengontrol Lampu dapat berkomunikasi dengan Server Absensi
dengan bantuan penerima RFID melalui komunikasi serial RS-232. Penerima RFID
akan mengubah format protokol RS-232 menjadi protocol TCP/IP. Semua data dan
instruksi akan diteruskan secara transparan. Ada 3 kelompok perintah yang
digunakan dalam system pengaturan lampu, yaitu: keep-alive message, status lampu dan pengaturan lampu.
Network Arsitektur yang digunakan dalam sistem ini adalah Client-Server. Semua modul Pengontrol
Lampu akan terintegrasi dengan modul Pembaca RFID sebagai client, sedangakan aplikasi Absensi akan di install di dalam
komputer server. Setiap modul Pembaca
RFID akan diberikan satu buah IP Static sesuai dengan pembagian kelompok Network
Address. Perangkat intermediate network
seperti Switch dan Router
akan dipergunakan sebagai communication
channel dari sistem, dengan demikian semua Lampu dalam kelas dapat
dinyalakan atau dimatikan dengan menggunakan kartu RFID.
V.2 Use Cases and Message Flow
Status lampu di dalam kelas akan menyala atau padam ditentukan oleh
jadwal mengajar dan kartu RFID yang dibaca oleh system pada saat itu. Pada saat
mahasiswa memasuki ruangan untuk melakukan tapping,
maka lampu akan menyala dengan default setting yaitu hanya lampu tengah
yang menyala. Data status pengaturan lampu yang dilakukan oleh Dosen dengan
menggunakan tombol soft-switch akan
disimpan ke dalam database aplikasi Absensi setelah 10 detik tidak terjadi
perubahan. Tapping kartu RFID Dosen untuk kesempatan berikutnya akan memicu
pengaturan lampu berdasarkan setting
lampu terakhir yang pernah dilakukan oleh Dosen tersebut pada jadwal kuliah dan
kelas di pertemuan sebelumnya. Untuk tapping
yang dilakukan oleh karyawan akan membuat lampu menyala dengan default setting.
Seperti tampak pada gambar diatas, validasi untuk pengaturan lampu
dilakukan oleh server Absensi. Setiap kali terjadi tapping RFID, data yang dikirim oleh RFID Reader akan dipadankan dengan database yang ada di dalam
Server Absensi untuk mendapatkan informasi pengguna kartu tersebut. Informasi
awal yang dicari adalah kelompok pemilik kartu tersebut, yaitu: Mahasiswa,
Dosen atau Karyawan. Jika didapati kartu tersebut adalah kartu Dosen, maka akan
diambil juga data jadwal kuliah serta ruangan yang digunakan untuk mengajar
saat itu.
V.3
Modul Pengontrol Lampu
Agar sistem Absensi yang ada saat ini dapat melakukan fungsi
pengaturan lampu, maka akan ditambahkan sebuah modul minimum sistem berbasis
mikrokontroller. Dalam penelitian ini akan dibuat satu buah modul prototype pengontrol lampu yang tersusun
atas beberpa bagian, yaitu: Catu daya, komunikasi serial RS-232, Pengerak Relay
dan Soft-switch. Modul ini
dipergunakan untuk memastikan Model yang dibuat dapat berjalan dengan baik
dengan fokus utama untuk menguji kesetabilan dan ketahanan.
Didalam modul ini terdapat sebuah IC regulator yang berfungsi untuk mensetabilkan tegangan listrik
menjadi 5Volt DC (Arus listrik searah) dari input tegangan sebesar 12Volt DC.
Secara keseluruhan semua blok penyusun akan mendapatkan suplay sebesar 5Volt
dengan kebutuhan total arus listrik kurang dari 200mA. Pada bagian penggerak
relay terdapat opto isolator yang berfungsi untuk memisahkan jalur listrik
untuk lampu dengan jalur listrik untuk modul penggontrol lampu. Tujuan utama
dari opto isolator ini adalah untuk memastikan tidak ada arus AC
yang dapat masuk ke dalam sistem. Adapun relay yang ada pada modul ini
berfungsi untuk menggantikan saklar lampu yang ada di kelas.
AT89S51
adalah salah satu turunan dari mikrokontroller MCS-51 yang berfungsi sebagai
komponen utama dari modul pengontrol lampu. Logika dan fungsi dasar dari system
pengontrol lampu berada di dalam IC ini. Pembagian penggunaan pin dari AT89S51
adalah sebagai berikut:
·
3 buah pin Output yang
dipergunakan untuk pengaturan penggerak relay
·
3 buah pin Input yang
dihubungkan ke 3 buah tombol soft-switch.
·
2 buah pin I/O sebagai jalur
komunikasi RS-232.
Konfigurasi komunikasi serial yang dipergunakan tanpa menggunakan parity bit dan memiliki kecepatan transfer data sebesar 9600 bps.
Konfigurasi komunikasi serial yang dipergunakan tanpa menggunakan parity bit dan memiliki kecepatan transfer data sebesar 9600 bps.
Semua
instruksi dari aplikasi Absensi akan diterima oleh AT89S51 melalui jalur
komunikasi serial RS-232 yang terhubung ke modul RFID Reader. Instruksi tersebut
akan diterjemakan untuk pengaturan lampu yang ada di dalam kelas.
V.4 Analisa penghematan
Dikarenakan alat yang dibuat masih berupa
prototype, maka berikut ini adalah analisa penghematan listrik berdasarkan
perhitungan matematika saja.
Saat ini setiap kelas di Kampus Anggrek Universitas Bina Nusantara
menggunakan lampu TL sebanyak 24 lampu
dan masing-masing lampu memiliki daya 36 watt. Jadi pemakaian lampu saja
konsumsi dayanya adalah 36 watt x 24
lampu = 864 watt. Jika dalam waktu pemakaian ruangan kelas dengan
asumsi semua lampu menyala maka daya yang dihabiskan sebesar 0.864 kW.
Jumlah ruangan kelas Kampus Anggrek sebanyak 115
ruangan (termasuk Lab Software), maka daya yang digunakan adalah 0.864 kWh x
115 ruang = 99.36 kWh.
Jika semua ruangan digunakan
untuk kuliah selama 6 shift dan tiap-tiap shift perkuliahan berlangsung 100 menit,
maka kira-kira konsumsi daya listrik yang digunakan adalah 6 x 100 menit x
0.864 kW x 115 ruang = 993.6 kWh.
Jika tingkat keterisian kelas (transaksi kelas)
hanya 89% saja (Data didapatkan dari SRSC Bina Nusantara), maka konsumsi
listrik dalam satu hari untuk lampu saja = 89% x 993.6 = 884.31 kWh.
Setelah perkuliahan selesai, maka seharusnya
dosen/asisten lab. yang menggunakan ruangan kelas harus mematikan lampunya.
Jika tidak dimatikan ada waktu kira-kira 15-20 menit untuk kuliah shift
berikutnya.
Jika kita asumsikan 15 menit saja, maka 15 menit x
115 ruang x 5 (ganti shift) x 0.864 kWh = 124.2 kWh. Jika kita asumsikan hanya
89% saja (karena ada matakuliah 4 SKS yang tidak ada pergantian shift), maka 89%
x 124.2 = 110.54 kW.
Untuk satu bulan (kira-kira 25 hari kuliah), maka
25 x 110.54 kWh= 2763.5 kWh.
Tarif yang dikenakan PLN untuk Universitas Bina
Nusantara (Gedung Anggrek) adalah sebagai berikut:
·
Pada
beban puncak (07:00-16:59) harga per kWh adalah: Rp 787
·
Saat
diluar beban puncak (17:00-06:59) harga per kWh adalah: Rp 1880.
Maka dari itu untuk pergantian shift antara shift 1 – shift 5 perkuliahan
di Universitas Bina Nusantara akan dikenakan tarif Rp 787/kWh dan perkuliahan
shift 6 akan dikenakan tarif Rp 1880/kWh.
Jadi untuk 1 bulan kuliah, nilai yang dapat
dihemat kira-kira sebesar:
·
2763.5
kWh x ¾ x Rp 787 = Rp 1.631.156
·
2763.5
kWh x ¼ x Rp 1880 = Rp 1.298.845
·
Jadi
total penghematan sebulan adalah Rp 1.466.181 + Rp 1.167.480 = Rp 2.930.000
Penghematan juga terjadi pada usia lampu. Dengan
mengurangi pemakaian lampu berarti juga menjaga masa pakai lampu.
BAB VI.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian tentang penerapan RFID di ruang kelas Universitas
Bina Nusantara untuk pengaturan saklar lampu ini dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Dengan menambahkan controller dan relay pada output serial RFID card
reader yang ada di masing-masing kelas, maka RFID card reader yang biasanya
hanya dipakai untuk absensi saja menjadi dapat digunakan untuk mematikan dan
menyalakan lampu ruang kelas.
b. Dengan dimatikannya lampu pada jam-jam antara waktu kuliah, maka listrik
di Universitas Bina Nusantara dapat dihemat.
BAB VII.
DAFTAR
PUSTAKA
Atmel Corporation. (2000). 8-bit
Microcontrollerwith 4K Bytes Flash AT89C51. San Jose, CA. Retrieved December
2012, from engineersgarage:
http://www.engineersgarage.com/electronic-components/at89c51-microcontroller-datasheet
Finkenzeller, K. (2003). RFID Handbook
Second Edition. West Sussex: John Wiley & Sons Ltd.
Intel Corporation. (1994). MCS@51 FAMILY
OF MICROCONTROLLERS ARCHITECTURAL OVERVIEW. In MCS@51 MICROCONTROLLER
Family User's Manual (pp. 1-3). Illinois: Intel Corporation. Retrieved
from University of Colorado:
http://cos.colorado.edu/Documents/DCE/BOOT/8051_Manual.pdf
RFID Journal. (n.d.). Retrieved December 2012, from RFID
Journal: http://www.rfidjournal.com
RS232 (Serial/COM Line) Pin Assignments. (n.d.). Retrieved December 2012, from
http://rabbit.eng.miami.edu/info/rs232.html
Sabri, M., Aziz, M., Shah, M., &
Kadir, M. (2007). Smart Attendance System by Using RFID. Asia Pacific
Conference on Applied Electromagnetic Proceeding.
Sae Sol Choi, Mun Kee Choi, Won Jay Song,
& Sang H. Son. (2005). Ubiquitous RFID Healthcare Systems Analysis on
PhysioNet Grid Portal Services Using Petri Nets. IEEE ICICS, 1255.
Thakare, Y., Musale, S., & Ganorkar,
S. (2008). A Technological Review of RFID & Applications. IET
International Conference on Wireless, Mobile and Multimedia Networks,
65-70.
No comments:
Post a Comment