A. Pendahuluan
1. Latar
Belakang
Secara umum dikatakan kalau bangsa yang besar
adalah bangsa yang terus membangun dan mengembangkan peradabannya melalui
pendidikan. Perpustakaan menjadi hal yang wajib untuk menopang eksistensi dari
pendidikan tersebut, sehingga perpustakaan
bisa dikatakan sebagai simbol motor penggerak yang kuat terhadap sebuah
peradaban dan intelektualitas manusia. Perpustakaan perguruan tinggi idealnya
harus menjadi jantung dari perguruan tinggi tersebut, sehingga sangat
membutuhkan peran pustakawan yang kompeten dan profesional.
Kondisi pemustaka dalam era Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
saat ini cenderung lebih aktif dalam akses informasi
menggunakan internet. Pemustaka lebih mengedepankan perangkat teknologi
dalam akses informasi. Namun kenyataan yang muncul di lapangan, belum
semua pustakawan perguruan tinggi menyadari betapa penting perannya di
perpustakaan. Kondisi nyata sepertinya peran
pustakawan belum nampak sumbangsih pemikiran dan kiprahnya untuk
mengkonsepkan
perpustakaan yang ideal itu seperti apa. Begitu pula dalam hal layanan
perpustakaan, masih banyak terlihat pustakawan yang melayani belum
sepenuh hati
sehingga sering dijumpai komplain pemustaka hanya karena tidak dilayani
dengan
baik.
Oleh karena sedemikian berpengaruhnya peran pustakawan perguruan
tinggi untuk membangun perpustakaan
ideal, maka dalam artikel ilmiah populer ini penulis mencoba mengkonsepkan
ide/gagasan kreatif sebagai solusi konkrit terhadap rekonstruksi peran pustakawan perguruan tinggi untuk membangun
perpustakaan ideal.
2. Permasalahan
Bagaimanakah
rekonstruksi peran pustakawan perguruan
tinggi untuk
membangun perpustakaan yang ideal ?.
3. Tujuan
Mengetahui rekonstruksi
peran pustakawan perguruan tinggi untuk
membangun perpustakaan yang ideal.
B. Pembahasan
1. Rekonstruksi
Peran Pustakawan
Secara umum
rekonstruksi merupakan penataan kembali atau pengembalian seperti semula.
Dengan demikian, rekonstruksi peran pustakawan bisa diartikan sebagai penataan
kembali peran pustakawan
agar pustakawan tersebut dapat mengembalikan perannya secara profesional. Penataan
dalam hal ini dimaksudkan dalam rangka untuk membangkitkan kembali semangat
pustakawan agar menyadari perannya untuk
membangun perpustakaan yang ideal. Melalui
rekonstruksi peran pustakawan jelas mengandung nilai-nilai primer yang harus
tetap ada dalam aktivitas membangun kembali perannya sesuai dengan tupoksi pustakawan di perpustakaan perguruan tinggi.
McCabe (2000: 68) menyebutkan bahwa program untuk membangun sebuah perpustakaan itu
memerlukan berbagai pertimbangan. Hal ini meliputi:
filosofi layanan, komunitas pemustaka yang dilayani, cakupan daerah, kondisi
iklim perpustakaan, kebutuhan ruangan, maupun keterkaitan hubungan ruangan yang
diinginkan oleh perpustakaan.
2. Konsep
Perpustakaan Ideal
2.1. Standar Nasional Perpustakaan
Jika membahas
mengenai
standar nasional perpustakaan,
maka yang
menjadi payung hukum yaitu
Undang-Undang RI No.
43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Hemat penulis, dikatakan perpustakaan itu ideal jika jelas ukuran
standarnya. Jadi dikatakan
ideal jika perpustakaan perguruan tinggi setidaknya dalam pelaksanaan,
pengelolaan, dan penyelenggaraan sudah mengacu pada standar atau aturan baku
yang telah ditentukan.
Dalam UU RI No.
43 Tahun 2007 tersebut yaitu pada
Bab III pasal 11, sebenarnya jelas sekali bahwa adanya Standar Nasional
Perpustakaan (SNPerp) yang digunakan sebagai acuan penyelenggaraan,
pengelolaan, dan pengembangan perpustakaan. Standar nasional perpustakaan
tersebut terdiri atas: koleksi perpustakaan, sarana dan prasarana, pelayanan
perpustakaan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan, dan pengelolaan.
Sementara itu,
dalam Standar Nasional Indonesia yaitu pada SNI 7330: 2009, juga dijelaskan
bahwa perpustakaan pergurun tinggi dimaksudkan untuk menyediakan acuan tentang
manajemen perpustakaan yang berlaku pada perguruan tinggi tersebut. Hal inilah
yang seharusnya menjadi dasar pengelolaan perpustakaan perguruan tinggi yang
tujuannya tiada lain untuk memenuhi kebutuhan dan akses informasi civitas
akademik di perguruan tinggi.
Apabila dicermati
dari fungsi perpustakaan perguruan tinggi, menurut Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi (2004: 3) terdiri dari fungsi: edukasi, informasi, riset,
rekreasi, publikasi, deposit, dan interpretasi. Jadi jika bicara bagaimana
perpustakaan perguruan tinggi ideal, jawabannya tegas yaitu butuh rekonstruksi
peran pustakawannya dalam pengelolaan yang mengacu pada fungsi tersebut.
Cuma yang menjadi
masalah adalah dalam pelaksanaannya yang belum terarah dan maksimal. Sepertinya
perlu langkah konkrit agar pustakawan bangkit kembali dan berbenah mengikuti
trend yang berkembang. Intinya bahwa
dengan berkembangnya TIK, maka perpustakaan membutuhkan dukungan dalam hal manajemen layanan informasi, sehingga disinilah perlu
rekonstruksi peran pustakawan di perguruan tinggi agar lebih optimal.
2.2. Desain Gedung Perpustakaan
Kondisi
fisik gedung perpustakaan dan desain interior ruang perpustakaan menjadi hal
yang perlu diperhatikan. Paling tidak perpustakaan pergurun tinggi menyediakan
gedung dengan ruang yang cukup untuk koleksi, pustakawan, dan pemustakanya.
Perpustakaan perguruan tinggi dikatakan ideal jika dapat menyediakan ruang
sekurang-kurangnya 0,5 m2 untuk setiap mahasiswa. Selanjutnya areal koleksi seluas 45%, ruang
pustakawan seluas 25%, dan ruang pemustaka seluas 30% yang terdiri dari ruang
baca dengan meja baca, meja baca berpenyekat, ruang baca khusus, ruang diskusi,
lemari katalog/komputer, meja sirkulasi, tempat penitipan tas dan toilet.
Menurut
seorang arsitek Inggris yang bernama Faulkner-Brown (1989, 1998) sebagaimana
dikutip oleh McDonald (2002: 148) bahwa setidaknya ada 10 aspek kriteria
dasar saat
merencanakan dan mendesain sebuah perpustakaan
yang ideal. Kesepuluh aspek tersebut adalah:
1.
Fleksibel (flexible). Pustakawan
dapat sewaktu-waktu mengubah lay out ruang kerjanya agar dapat difungsikan secara maksimal. Hal ini bisa untuk mengatasi kebosanan dan kejenuhan sewaktu
bekerja.
2.
Kekompakan bentuk (compact). Contohnya pada
rak buku yang bentuk maupun ukuran tingginya sama
sehingga terlihat rapi. Kekompakan komposisi warna dari furniture juga harus diperhatikan agar serasi.
3.
Mudah diakses (accessible). Perpustakaan
dibangun dengan letak yang paling strategis agar mudah diakses dan dijangkau pemustakanya.
4.
Mudah dikembangkan (extendible). Perpustakaan
dirancang agar dalam jangka waktu ke depan masih bisa dikembangkan, misalnya:
penambahan ruang layanan.
5.
Variasi/beragam (varied). Tersedianya
ruang layanan perpustakaan yang beraneka fungsi sesuai
dengan
kebutuhan pemustakanya.
6.
Terorganisir (organized). Sekalipun banyak unit layanan
perpustakaan yang letaknya berjauhan, namun tetap bisa dikendalikan sehingga
memudahkan interaksi antara pemustaka dengan pustakawan.
7. Nyaman (comfortable). Faktor
kenyamanan perpustakaan sangat kondusif untuk melahirkan
inspirasi positif bagi pemustaka. Lingkungan yang menyenangkan
dengan beragam fasilitas akan menjadi daya tarik bagi pemustaka untuk
berkunjung ke perpustakaan.
8.
Konstan terhadap lingkungan (constant in environment). Hal
ini terkait dengan upaya menjaga agar
koleksi yang ada di perpustakaan terbebas dari hal-hal yang cenderung merusak
koleksi, misalnya: terkena sinar matahari ataupun AC
secara terus-menerus. Dengan
demikian pengaturan pencahayaan dan penerangan harus diperhatikan agar sesuai
dengan standar.
9.
Keamanan (secure). Keamanan meliputi baik dari sisi koleksi maupun
keselamatan pustakawannya sendiri. Langkah preventif agar koleksi
tidak hilang yaitu memasang sarana: cermin cembung (convex
mirror), produk security system, maupun kamera Center Circuit Television (CCTV). Pustakawan
juga harus memperhatikan masalah keselamatan yang menunjuk ke
manusianya baik itu pemustaka maupun pustakawannya, misalnya: ketersediaan tabung pemadam kebakaran (fire extenguisher), fire alarm, kabel listrik yang
ditanam, maupun
tangga/pintu darurat.
10.
Ekonomis/penghematan (economic). Maksudnya
memperhatikan
sisi yang lebih ekonomis dan efisien dengan
cara menekan biaya operasional yang timbul dari kegiatan perpustakaan. Hal ini bisa diperhitungkn dengan cara yang paling hemat
manakala dalam pemasangan
AC, kabel telepon, lampu penerangan, dan lain sebagainya.
Pustakawan dalam tahap awal
perencanaan
pembangunan gedung perpustakaan harus
ambil bagian dan berkolaborasi dengan pihak arsitek (architecture),
teknik (engineering), maupun
desainer
interior (interior design).
Hal ini sangat penting, karena jika pustakawan tidak memberikan konsep/usulan perpustakaan ideal nantinya
seperti apa, maka hasil akhirnya bisa jadi tidak sesuai dengan yang diharapkan
pustakawannya.
Melalui tahap perencanaan yang matang dan desain
perpustakaan yang baik menjadi hal yang sangat penting dan menunjang
semua
kegiatan di perpustakaan. Paling tidak mendesain gedung perpustakaan
menjadi upaya awal untuk membangun perpustakaan yang ideal, sehingga
harapannya ke depan dapat
juga berdampak untuk meningkatkan gairah kerja pustakawannya.
2.3. Fasilitas Perpustakaan
Menghadapi
perilaku akses informasi yang sudah berubah saat ini, pustakawan sebagai agen
perubahan tidak boleh hanya berpangku tangan. Dalam mendukung perpustakaan
ideal, maka perpustakaan perguruan tinggi harus melengkapi dengan fasilitas
yang mendukung pemustaka digital native,
misalnya: perangkat komputer, hot
spot/wifi, colokan laptop, multi media, maupun CD ROM.
Begitu
juga tersedianya fasilitas lainnya yang mendukung civitas akademik, seperti
mesin foto kopi, printer, karpet,
maupun sofa dengan suasana yang ‘learning
commons\' sehingga pemustaka merasa nyaman. Harland (2011) menyebutkan
langkah untuk menjadikan perpustakaan menjadi learning commons, antara lain: berorientasi pada pemustaka, ruang
yang fleksibel baik secara fisik dan virtual, ruang yang memungkinkan
berkumpulnya civitas akademik untuk akses sumber informasi, ruang yang
berfungsi sebagai pusat belajar, sampai pemustaka yang aktif melakukan
publisitas dengan menceritakan pengalaman positif yang menyenangkan selama
berada di perpustakaan.
Beagle
(1999: 82) juga menegaskan kalau perpustakaan idealnya harus cepat merespon
dengan memfasilitasi ruang learning
commons yang memang dirancang untuk mengakomodir kebutuhan pemustaka yang
menginginkan akses ke area digital. Jadi mau tidak mau ruang perpustakaan
perguruan tinggi tersebut harus terintegrasi dengan dukungan TIK yang memadai.
Intinya tuntutan ruang dan lingkungan perpustakaan dengan jaringan internet
menjadi syarat mutlak yang harus ada.
Perpustakaan
perguruan tinggi juga perlu dilengkapi dengan \"library cafe\" yang memungkinkan pemustaka untuk memenuhi kebutuhan
minum dan cemilan. Sekalipun hanya kecil tidak masalah, yang penting pemustaka
merasa nyaman dan kerasan di perpustakaan.
Fasilitas
dengan zona ruangan bersekat yang beraneka fungsi juga perlu, misalnya zona
untuk ruang senyap bagi pemustaka yang mengerjakan tugas akhir dan butuh
keseriusan atau konsentrasi, kemudian ruang semi senyap untuk ruang baca,
sampai pada zona ramai yang memang memberikan kesempatan pemustaka untuk
berdiskusi kelompok. Bahkan Huwe (2007: 35) menjelaskan bahwa ruang
perpustakaan dengan zona ramai (loud
zones) memungkinkan pemustaka bebas bermain game, bersosialisasi, makan
minum, sampai ngobrol interaktif dengan pemustaka lain.
2.4. Layanan
Perpustakaan
Layanan perpustakaan yang ideal berarti mengedepankan sisi humanis. Perpustakaan harus
punya alat bantu penelusuran informasi bagi pemustaka, misalnya OPAC maupun layanan e-library. Disamping
juga harus memperhatikan waktu layanan perpustakaan yang cukup, program
pemeliharaan perpustakaan secara berkala, dan tersedianya ruang baca yang representatif. Layanan perpustakaan yang humanis
membuat pemustaka menjadi puas. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan
Laughlin dan Wilson (2008: 2) bahwa pemustaka menginginkan informasi yang
terbaru yang akurat, mengharapkan layanan yang nyaman, menginginkan layanan
yang didesain secara handal, dan
mengharapkan layanan yang berkualitas tinggi.
Jadi
pustakawan perguruan tinggi idealnya
dalam melayani juga harus mampu bersikap humanis, artinya
\"memanusiakan pemustaka\" atau bahasa Jawanya \"nguwongke\". Aplikasi dari pustakawan humanis tersebut
hendaknya dapat mengedepankan sikap courtesy dalam melayani pemustakanya. Hal ini menyangkut aspek bagaimana sikap pustakawan saat melayani pemustakanya,
yaitu: mampu memberikan perhatian (attentive), penuh pertolongan (helpful), tenggang rasa (considerate),
sopan (polite), maupun peduli (respectful).
2.5. Sumber Informasi Perpustakaan
Istilah
buku jendela dunia tidaklah berlebihan, sehingga perlu didukung dengan ketersediaan koleksi yang memadai. Dalam Brown et. al. (1997: 5) disebutkan bahwa untuk meningkatkan kualitas
perpustakaan perguruan tinggi membutuhkan tips tertentu. Idealnya perpustakaan perguruan tinggi saat ini harus
bisa menjadi \"research
center\" yang mendukung
penelitian civitas akademik.
Jadi saat ini selain sumber informasi cetak,
ketersediaan e-resources di
perpustakaan perguruan tinggi juga
menjadi keharusan dalam
mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi. Koleksi
e-journals maupun e-books yang bisa diakses secara free oleh
pemustaka menjadi
sesuatu yang wajib ada. Koleksi
buku text di perpustakaan perguruan tinggi paling tidak harus memenuhi rasio jumlah buku dengan
jumlah pemustakanya, misalnya
berkisar antara 1:10 sampai 1:20.
Sumber informasi hendaknya dikembangkan dengan digital reference (misalnya: email, web form) dan virtual reference secara real
time (misalnya: using chat,
video). Hal ini sesuai dengan pendapat Berube (2003) yang dikutip oleh
Wijayaratne (2008: 187) bahwa pustakawan harus memperhatikan trend pemustaka
yang mengedepankan akses sumber informasi secara online kapanpun dan dimanapun.
Namun demikian, tersedianya
sumber
informasi yang memadai tidak akan
bisa maksimal didayagunakan oleh pemustaka jika pustakawan tidak aktif
melakukan penyebaran informasi dari koleksi yang dimiliki perpustakaan.
Pustakawan hendaknya produktif menghasilkan produk kemasan informasi, baik
berupa resensi buku baru, poster, maupun informasi terbaru dalam berbagai
bentuk paket informasi maupun lembar lepas.
2.6. Desain Situs Web Perpustakaan
Jika
dicermati saat ini masih ada desain situs web perpustakaan yang terkesan hanya
asal jadi, artinya belum berstandar pada teori perancangan situs web yang
ideal. Hal ini dibuktikan dengan adanya tampilan layar situs web perpustakaan
yang belum nyaman untuk para pembaca (reader).
Menurut Nugroho (2009: 77), bahwa desain situs sangat
tergantung pada selera dan \"rasa seni\" perancangnya sehingga
variasinya pada
dasarnya tidak terbatas. Namun
secara
umum model tampilannya dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu model klasik
dan model kontemporer. Model klasik yaitu
desain situs web perpustakaan yang
dibuat dengan pola yang mengikuti teori psikologi kognitif secara murni,
sedangkan model kontemporer yaitu desain situs web perpustakaan yang
dibuat dengan pola
non-klasik dengan
menggunakan pola bebas sesuai inovasi perancang web perpustakaan.
Dalam pandangan
penulis, situs web di berbagai perpustakaan masih banyak yang kurang sempurna.
Padahal era TIK saat ini menyadarkan betapa kebutuhan pemasaran via internet
sudah merupakan keharusan. Keberadaan website perpustakaan perguruan tinggi
bisa menjadi promosi dan alat komunikasi dengan dunia luar secara maya.
Pustakawan harusnya juga mengetahui pengetahuan tentang apa itu situs web
perpustakaan, baik secara umum maupun aplikasi pembuatannya.
Dengan
demikian perlu teknik mendesain situs web
perpustakaan yang reader friendly, artinya
nyaman dibaca oleh pemustaka. Tekniknya antara lain:
1. Mengetahui berbagai
faktor yang perlu diperhatikan untuk
membuat suatu situs
web perpustakaan agar menjadi favorit bagi pembaca. Misalnya: materi isi situs, kekinian
informasi dalam situs, kognitif desain situs, seni desain situs, kemudahan
akses, alamat situs yang mudah diingat oleh pemustaka, kecepatan transfer data dari situs, serta model situs yang kontemporer.
2. Mengetahui faktor ‘psikologi warna\' yang juga sangat penting dalam upaya mendesain
situs yang reader friendly. Fungsinya
adalah untuk membantu menyusun desain suatu tata warna situs web perpustakaan
agar terasa nyaman bagi yang memandang atau melihat.
3.
Memerlukan suatu pemahaman
tentang arsitektur informasi dalam merancang suatu situs web
perpustakaan. Dalam Ding dan Lin (2010: 2) dijelaskan bahwa arsitektur
informasi adalah aspek
untuk mengatur dan menyederhanakan informasi,
merancang, mengintegrasikan dan menggabungkan informasi, menciptakan
cara untuk menemukan, memahami, maupun saling bertukar dalam
mengelola informasi.
Dengan
demikian dapat saya simpulkan kalau arsitektur informasi dalam kaitannya untuk mendesain situs web perpustakaan merupakan ilmu
dan seni tentang bagaimana menyusun, mengorganisasikan,
mengelompokkan,
membuat navigasi, melakukan pelabelan, maupun membuat sistem pencarian informasi agar perancang situs web
perpustakaan mudah mengatur dan menemukan informasi dengan lebih mudah.
Oleh karena itu,
saya berpikir bahwa pengembangan website akan menjadi lebih cepat apabila perancang web perpustakaan sudah mengetahui
arsitektur informasi dari apa yang akan dibuat. Jadi pustakawan dapat berperan untuk memberikan konsep
pengembangan situs web sesuai dengan kebutuhan perpustakaannya. Komponennya
bisa berupa:
a.
Organisasi
informasi (organizing information), yaitu cara
mengelompokkan informasi pada website perpustakaan.
b.
Sitem pelabelan (labelling information), yaitu cara
bagaimana suatu istilah yang digunakan bisa dengan tepat mewakili informasi perpustakaan.
c.
Sistem
navigasi (navigation systems), yaitu bagaimana
membimbing pemustaka berpindah-pindah dari informasi yang satu ke yang
lain tanpa kehilangan orientasi penelusuran.
d.
Sistem
pencarian (searching systems), yaitu membahas
pencarian informasi melalui mesin pencari di web perpustakaan.
2.7. Software Penelusuran Informasi
Perpustakaan perguruan tinggi idealnya menggunakan
perangkat lunak yang user friendly. Hal ini untuk membantu proses pengolahan dan pelayanan
informasi, sistem informasi manajemen, dan operasional administrasi perpustakaan.
Istilah user friendly artinya mudah dipergunakan, sehingga lebih cocok
untuk mendesain software perpustakaan
dalam konteks pangkalan data pada sebuah sistem atau aplikasi program. Jadi software penelusuran dikatakan ideal melalui pendekatan pada sisi kegunaan (usability). Tujuannya agar
memudahkan pustakawan dalam inputing data dan bagi pemustaka saat penggunaan
dalam temu balik informasi.
Dalam hal ini pengunjung situs web disebut
pengguna (user) dan frekuensinya
sering sekali dilakukan sewaktu-waktu. Software penelusuran dikatakan ideal harus user friendly, karena
pemustaka bisa secara
terus-menerus berinteraksi menggunakan suatu aplikasi software saat melakukan penelusuran informasi.
3. Upaya Pustakawan Membangun Perpustakaan Ideal
Memiliki SDM (pustakawan) yang powerfull pasti berdampak pada kondisi ideal perpustakaannya.
Membangun perpustakaan ideal sehingga mampu mewujudkan civitas akademik sebagai
pembelajar sepanjang hayat menjadi tantangan pustakawan perguruan tinggi.
Bentuk konkrit era TIK saat ini jelas memerlukan pustakawan yang memiliki
kompetensi dan penuh daya pesona. Dalam SKKNI (2012: 2), kompetensi pustakawan dijelaskan:
\"Kompetensi
adalah kemampuan seseorang yang mencakup pengetahuan, ketrampilan dan sikap
kerja yang dapat terobservasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas
sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan.\"
Selanjutnya kompetensi tersebut diwujudkan dalam 3 (tiga) kelompok unit
kompetensi, yaitu: kompetensi umum, kompetensi inti, dan kompetensi khusus. Selain
pustakawan harus memiliki kompetensi, juga harus profesional dalam menjalankan
tupoksinya. Jika dikaitkan dengan upaya merekonstruksi peran pustakawan untuk membangun perpustakaan yang ideal, maka paling
tidak pihak manajemen perpustakaan
perguruan tinggi tersebut juga harus memperhatikan aspek dalam
mengelola perpustakaannya. Hal ini bisa dilakukan dengan prinsip \"6M\", yaitu:
1.
Man, maksudnya perpustakaan harus memiliki pustakawan yang
mempunyai kompetensi dalam bidang perpusdokinfo.
2.
Money, yaitu dukungan alokasi dana/biaya
dengan anggaran yang memadai untuk
pengembangan perpustakaan. Anggaran perpustakaan perguruan tinggi sekurang-kurangya
5% dari total anggaran perguruan tinggi diluar belanja pegawai.
3.
Materials, menyangkut
ketersediaan sarana prasarana dan sumber informasi dalam bentuk
terbitan buku maupun
nonbuku yang sesuai kebutuhan pemustaka.
4.
Machines, meliputi dukungan peralatan, teknologi, dan fasilitas
perpustakaan yang sesuai dengan trend perpustakaan saat ini.
5. Method, artinya metode pengelolaan perpustakaan dengan prosedur kerja yang sudah
terbakukan, misalnya: perpustakaan mempunyai Standar Operasional Prosedur (SOP)
yang baku dalam setiap proses kegiatan agar dapat memenuhi standar layanan
ideal.
6.
Market, agar perpustakaan dikenal civitas akademik luas maka harus dipromosikan baik
melalui media komunikasi cetak mupun elektronik melalui situs web perpustakaan.
Dalam
Brown (2002:
9) disebutkan bahwa langkah awal dalam
membangun sebuah perpustakaan adalah
dengan menilai terlebih dahulu kelayakan terhadap
bangunan yang ada kemudian menentukan apa
saja yang sebenarnya diperlukan oleh perpustakaan tersebut. Jadi untuk mewujudkan
perpustakaan yang ideal perlu perencanaan yang matang. Hal ini bisa terkait
dengan aspek desain interior (interior design), perabot (furnishings), pembagian ruangan (spaces), tanda/rambu
perpustakaan (signs), pewarnaan
ruangan (colors), pencahayaan/penerangan (lighting), maupun
aspek akuistik (acoustics). Selain itu, juga
apakah ingin membangun gedung baru, hanya mengembangkan
saja, menggabungkan, atau bahkan akan merenovasi sangat membutuhkan peran pustakawannya.
Benson (1997) dalam Saez (2002: 139) mengidentifikasi
peran pustakawan dalam era global, yaitu: sebagai penyedia akses internet,
navigator, pendidik, penerbit, perantara, evaluator informasi, pengorganisasi
informasi, maupun perencana dan pengambil kebijakan. Jadi saya rasa pustakawan
mau tidak mau harus berupaya merekonstruksi perannya dengan menjadi \"holistic librarian\", yang artinya memiliki
berbagai macam kompetensi yang
meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan perpusdokinfo yang
berorientasi pada
teknologi.
Seberapa hebat dukungan layanan TIK juga harus
dibarengi dengan pustakawan yang \"mumpuni\", artinya pustakawan harus
mempunyai kepekaan terhadap perubahan
perilaku pemustaka dalam akses informasi dan memunculkan kreatifitas
ataupun inovasi untuk maju. Saya rasa untuk membangun perpustakaan ideal
tidak semudah membalik telapak tangan, namun perlu
usaha keras dalam merekonstruksi peran pustakawannya.
Beberapa contoh konkrit yang ingin
penulis sampaikan dalam upaya merekonstruksi peran pustakawan untuk membangun perpustakaan yang ideal, antara lain:
a.
Mengembangkan layanan perpustakaan berbasis online yang sesuai dengan trend
perilaku akses informasi pemustaka di era TIK;
b.
Mengembangkan sumber informasi elektronik (e-resources) yang sesuai dengan bidang ilmu di perguruan tinggi;
c.
Terpenuhinya ukuran tata ruangan dan berbagai
jenis ruang perpustakaan yang memenuhi kebutuhan civitas akademik;
d.
Kondisi ruangan perpustakaan yang memenuhi syarat kesehatan, keselamatan, keamanan, kerapian, dan kenyamanan;
e.
Struktur bahan dan utilitas
bangunan perpustakaan yang kuat;
f.
Sistem ventilasi/sirkulasi udara
yang cukup agar ruangan tidak pengap;
g.
Tersedianya pengharum ruangan di setiap ruang perpustakaan;
h.
Sistem pengendalian polusi suara
(akustik) yang baik sehingga pemustaka tidak terganggu;
i.
Pengaturan sistem keindahan ruangan (misalnya: tanaman indoor, lukisan);
j.
Sistem pencahayaan/penerangan
yang tepat dan disesuaikan dengan besar kecil serta fungsi
ruangan;
k.
Desain perpustakaan yang menarik dan tata letak ruangan yang nyaman;
l.
Pemilihan
warna dinding yang membangkitkan nuansa ilmiah dan sesuai dengan warna
perabot;
m.
Penataan interior perlengkapan perpustakaan yang enak dipandang;
n.
Adanya program pemeliharaan perpustakaan, perabot, fasilitas, dan koleksinya;
o.
Pemilihan mebelair yang cocok untuk desain sebuah perpustakaan;
p.
Sistem instalansi air dan listrik
yang memadai;
q.
Tersedianya fasilitas pendukung, seperti: ruang untuk ibadah (mushola),
parkir, kantin, dan yang lainnya, baik bagi pemustaka maupun
pustakawannya;
r.
Jika gedung perpustakaan
bertingkat, maka perlu tersedianya toilet di setiap lantai perpustakaan.
C.
Penutup
1.
Simpulan
Rekonstruksi peran pustakawan perguruan tinggi untuk membangun perpustakaan
ideal dilakukan dengan cara mengembalikan peran pustakawan yang idealnya harus mampu
menjadi \"holistic librarian\". Jadi
harus memiliki kompetensi dan profesional dalam mengelola perpustakaan,
mengolah sumber informasi, dan melayani pemustaka dengan berbasis TIK. Upaya merekonstruksi
peran pustakawan untuk membangun perpustakaan ideal, meliputi: mengelola
perpustakaan sesuai standar nasional perpustakaan, mendesain gedung
perpustakaan yang berpedoman pada aturan, menyediakan fasilitas TIK yang
mendukung, tersedianya pustakawan humanis yang mampu melayani pemustaka dengan
sikap courtesy, menyediakan sumber
informasi lengkap baik cetak maupun elektronis, mendesain situs web
perpustakaan yang reader friendly,
dan menyediakan software penelusuran
yang user friendly.
2. Saran
Dalam upaya merekonstruksi peran pustakawan perguruan tinggi untuk membangun
perpustakaan ideal hendaknya dimulai dengan membangkitkan
kembali motivasi para pustakawan perguruan tinggi agar menyadari dengan
sepenuhnya akan perannya yang sangat penting di perguruan tinggi. Pustakawan
harus ambil bagian dalam setiap proses pengembangan perpustakaan, baik tahap
awal dalam mendesain gedung perpustakaan sampai pada hal-hal teknis
lainnya.
3. Manfaat
Artikel ilmiah populer ini penulis susun untuk memunculkan ide/gagasan
kreatif penulis sebagai sharing pengalaman dan berbagi pengetahuan
dengan para pustakawan/pengelola perpustakaan/pegiat perpustakaan khususnya di
perguruan tinggi, menambah wawasan dan solusi konkrit tentang bagaimana
mewujudkan perpustakaan perguruan tinggi ideal yang didambakan civitas akademik,
sekaligus bermanfaat bagi masyarakat luas secara umum
No comments:
Post a Comment