Tuesday, June 30, 2015

REKONSTRUKSI PERAN PUSTAKAWAN PERGURUAN TINGGI UNTUK MEMBANGUN PERPUSTAKAAN IDEAL

A.    Pendahuluan

1.   Latar Belakang

Secara umum dikatakan kalau bangsa yang besar adalah bangsa yang terus membangun dan mengembangkan peradabannya melalui pendidikan. Perpustakaan menjadi hal yang wajib untuk menopang eksistensi dari pendidikan tersebut, sehingga perpustakaan bisa dikatakan sebagai simbol motor penggerak yang kuat terhadap sebuah peradaban dan intelektualitas manusia. Perpustakaan perguruan tinggi idealnya harus menjadi jantung dari perguruan tinggi tersebut, sehingga sangat membutuhkan peran pustakawan yang kompeten dan profesional.

Kondisi pemustaka dalam era Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini cenderung lebih aktif dalam akses informasi menggunakan internet. Pemustaka lebih mengedepankan perangkat teknologi dalam akses informasi. Namun kenyataan yang muncul di lapangan, belum semua pustakawan perguruan tinggi menyadari betapa penting perannya di perpustakaan. Kondisi nyata sepertinya peran pustakawan belum nampak sumbangsih pemikiran dan kiprahnya untuk mengkonsepkan perpustakaan yang ideal itu seperti apa. Begitu pula dalam hal layanan perpustakaan, masih banyak terlihat pustakawan yang melayani belum sepenuh hati sehingga sering dijumpai komplain pemustaka hanya karena tidak dilayani dengan baik.

Oleh karena sedemikian berpengaruhnya peran pustakawan perguruan tinggi untuk membangun perpustakaan ideal, maka dalam artikel ilmiah populer ini penulis mencoba mengkonsepkan ide/gagasan kreatif sebagai solusi konkrit terhadap rekonstruksi peran pustakawan perguruan tinggi untuk membangun perpustakaan ideal.

2.   Permasalahan

Bagaimanakah rekonstruksi peran pustakawan perguruan tinggi untuk membangun perpustakaan yang ideal ?.

3.   Tujuan

Mengetahui rekonstruksi peran pustakawan perguruan tinggi untuk membangun perpustakaan yang ideal.

B.  Pembahasan

1.      Rekonstruksi Peran Pustakawan

Secara umum rekonstruksi merupakan penataan kembali atau pengembalian seperti semula. Dengan demikian, rekonstruksi peran pustakawan bisa diartikan sebagai penataan kembali peran pustakawan agar pustakawan tersebut dapat mengembalikan perannya secara profesional. Penataan dalam hal ini dimaksudkan dalam rangka untuk membangkitkan kembali semangat pustakawan agar menyadari perannya untuk membangun perpustakaan yang ideal. Melalui rekonstruksi peran pustakawan jelas mengandung nilai-nilai primer yang harus tetap ada dalam aktivitas membangun kembali perannya sesuai dengan tupoksi pustakawan di perpustakaan perguruan tinggi.

McCabe (2000: 68) menyebutkan bahwa program untuk membangun sebuah perpustakaan itu memerlukan berbagai pertimbangan. Hal ini meliputi: filosofi layanan, komunitas pemustaka yang dilayani, cakupan daerah, kondisi iklim perpustakaan, kebutuhan ruangan, maupun keterkaitan hubungan ruangan yang diinginkan oleh perpustakaan.

2.   Konsep Perpustakaan Ideal

2.1.  Standar Nasional Perpustakaan

Jika membahas mengenai standar nasional perpustakaan, maka yang menjadi payung hukum yaitu Undang-Undang RI No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Hemat penulis, dikatakan perpustakaan itu ideal jika jelas ukuran standarnya. Jadi dikatakan ideal jika perpustakaan perguruan tinggi setidaknya dalam pelaksanaan, pengelolaan, dan penyelenggaraan sudah mengacu pada standar atau aturan baku yang telah ditentukan.

Dalam UU RI No. 43 Tahun 2007 tersebut yaitu pada Bab III pasal 11, sebenarnya jelas sekali bahwa adanya Standar Nasional Perpustakaan (SNPerp) yang digunakan sebagai acuan penyelenggaraan, pengelolaan, dan pengembangan perpustakaan. Standar nasional perpustakaan tersebut terdiri atas: koleksi perpustakaan, sarana dan prasarana, pelayanan perpustakaan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan, dan pengelolaan.

Sementara itu, dalam Standar Nasional Indonesia yaitu pada SNI 7330: 2009, juga dijelaskan bahwa perpustakaan pergurun tinggi dimaksudkan untuk menyediakan acuan tentang manajemen perpustakaan yang berlaku pada perguruan tinggi tersebut. Hal inilah yang seharusnya menjadi dasar pengelolaan perpustakaan perguruan tinggi yang tujuannya tiada lain untuk memenuhi kebutuhan dan akses informasi civitas akademik di perguruan tinggi.

Apabila dicermati dari fungsi perpustakaan perguruan tinggi, menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (2004: 3) terdiri dari fungsi: edukasi, informasi, riset, rekreasi, publikasi, deposit, dan interpretasi. Jadi jika bicara bagaimana perpustakaan perguruan tinggi ideal, jawabannya tegas yaitu butuh rekonstruksi peran pustakawannya dalam pengelolaan yang mengacu pada fungsi tersebut.

Cuma yang menjadi masalah adalah dalam pelaksanaannya yang belum terarah dan maksimal. Sepertinya perlu langkah konkrit agar pustakawan bangkit kembali dan berbenah mengikuti trend yang berkembang. Intinya bahwa dengan berkembangnya TIK, maka perpustakaan membutuhkan dukungan dalam hal manajemen layanan informasi, sehingga disinilah perlu rekonstruksi peran pustakawan di perguruan tinggi agar lebih optimal.

2.2.  Desain Gedung Perpustakaan

Kondisi fisik gedung perpustakaan dan desain interior ruang perpustakaan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Paling tidak perpustakaan pergurun tinggi menyediakan gedung dengan ruang yang cukup untuk koleksi, pustakawan, dan pemustakanya. Perpustakaan perguruan tinggi dikatakan ideal jika dapat menyediakan ruang sekurang-kurangnya 0,5 m2 untuk setiap mahasiswa.  Selanjutnya areal koleksi seluas 45%, ruang pustakawan seluas 25%, dan ruang pemustaka seluas 30% yang terdiri dari ruang baca dengan meja baca, meja baca berpenyekat, ruang baca khusus, ruang diskusi, lemari katalog/komputer, meja sirkulasi, tempat penitipan tas dan toilet.

Menurut seorang arsitek Inggris yang bernama Faulkner-Brown (1989, 1998) sebagaimana dikutip oleh McDonald (2002: 148) bahwa setidaknya ada 10 aspek kriteria dasar saat merencanakan dan mendesain sebuah perpustakaan yang ideal. Kesepuluh aspek tersebut adalah:

1.    Fleksibel (flexible). Pustakawan dapat sewaktu-waktu mengubah lay out ruang kerjanya agar dapat difungsikan secara maksimal. Hal ini bisa untuk mengatasi kebosanan dan kejenuhan sewaktu bekerja.

2.    Kekompakan bentuk (compact). Contohnya pada rak buku yang bentuk maupun ukuran tingginya sama sehingga terlihat rapi. Kekompakan komposisi warna dari furniture juga harus diperhatikan agar serasi.

3.    Mudah diakses (accessible). Perpustakaan dibangun dengan letak yang paling strategis agar mudah diakses dan dijangkau pemustakanya.

4.    Mudah dikembangkan (extendible). Perpustakaan dirancang agar dalam jangka waktu ke depan masih bisa dikembangkan, misalnya: penambahan ruang layanan.

5.    Variasi/beragam (varied). Tersedianya ruang layanan perpustakaan yang beraneka fungsi sesuai dengan kebutuhan pemustakanya.

6.    Terorganisir (organized). Sekalipun banyak unit layanan perpustakaan yang letaknya berjauhan, namun tetap bisa dikendalikan sehingga memudahkan interaksi antara pemustaka dengan pustakawan.

7.    Nyaman (comfortable). Faktor kenyamanan perpustakaan sangat kondusif untuk melahirkan inspirasi positif bagi pemustaka. Lingkungan yang menyenangkan dengan beragam fasilitas akan menjadi daya tarik bagi pemustaka untuk berkunjung ke perpustakaan.

8.    Konstan terhadap lingkungan (constant in environment). Hal ini terkait dengan upaya menjaga agar koleksi yang ada di perpustakaan terbebas dari hal-hal yang cenderung merusak koleksi, misalnya: terkena sinar matahari ataupun AC secara terus-menerus. Dengan demikian pengaturan pencahayaan dan penerangan harus diperhatikan agar sesuai dengan standar.

9.    Keamanan (secure). Keamanan meliputi baik dari sisi koleksi maupun keselamatan pustakawannya sendiri. Langkah preventif agar koleksi tidak hilang yaitu memasang sarana: cermin cembung (convex mirror), produk security system, maupun kamera Center Circuit Television (CCTV). Pustakawan juga harus memperhatikan masalah keselamatan yang menunjuk ke manusianya baik itu pemustaka maupun pustakawannya, misalnya: ketersediaan tabung pemadam kebakaran (fire extenguisher), fire alarm, kabel listrik yang ditanam, maupun tangga/pintu darurat.

10.     Ekonomis/penghematan (economic). Maksudnya memperhatikan sisi yang lebih ekonomis dan efisien dengan cara menekan biaya operasional yang timbul dari kegiatan perpustakaan. Hal ini bisa diperhitungkn dengan cara yang paling hemat manakala dalam pemasangan AC, kabel telepon, lampu penerangan, dan lain sebagainya.



Pustakawan dalam tahap awal perencanaan pembangunan gedung perpustakaan harus ambil bagian dan berkolaborasi dengan pihak arsitek (architecture), teknik (engineering), maupun desainer interior (interior design). Hal ini sangat penting, karena jika pustakawan tidak memberikan konsep/usulan perpustakaan ideal nantinya seperti apa, maka hasil akhirnya bisa jadi tidak sesuai dengan yang diharapkan pustakawannya.

Melalui tahap perencanaan yang matang dan desain perpustakaan yang baik menjadi hal yang sangat penting dan menunjang semua kegiatan di perpustakaan. Paling tidak mendesain gedung perpustakaan menjadi upaya awal untuk membangun perpustakaan yang ideal, sehingga harapannya ke depan dapat juga berdampak untuk meningkatkan gairah kerja pustakawannya.

2.3.   Fasilitas Perpustakaan

Menghadapi perilaku akses informasi yang sudah berubah saat ini, pustakawan sebagai agen perubahan tidak boleh hanya berpangku tangan. Dalam mendukung perpustakaan ideal, maka perpustakaan perguruan tinggi harus melengkapi dengan fasilitas yang mendukung pemustaka digital native, misalnya: perangkat komputer, hot spot/wifi, colokan laptop, multi media, maupun CD ROM.

Begitu juga tersedianya fasilitas lainnya yang mendukung civitas akademik, seperti mesin foto kopi, printer, karpet, maupun sofa dengan suasana yang ‘learning commons\' sehingga pemustaka merasa nyaman. Harland (2011) menyebutkan langkah untuk menjadikan perpustakaan menjadi learning commons, antara lain: berorientasi pada pemustaka, ruang yang fleksibel baik secara fisik dan virtual, ruang yang memungkinkan berkumpulnya civitas akademik untuk akses sumber informasi, ruang yang berfungsi sebagai pusat belajar, sampai pemustaka yang aktif melakukan publisitas dengan menceritakan pengalaman positif yang menyenangkan selama berada di perpustakaan.

Beagle (1999: 82) juga menegaskan kalau perpustakaan idealnya harus cepat merespon dengan memfasilitasi ruang learning commons yang memang dirancang untuk mengakomodir kebutuhan pemustaka yang menginginkan akses ke area digital. Jadi mau tidak mau ruang perpustakaan perguruan tinggi tersebut harus terintegrasi dengan dukungan TIK yang memadai. Intinya tuntutan ruang dan lingkungan perpustakaan dengan jaringan internet menjadi syarat mutlak yang harus ada.

Perpustakaan perguruan tinggi juga perlu dilengkapi dengan \"library cafe\" yang memungkinkan pemustaka untuk memenuhi kebutuhan minum dan cemilan. Sekalipun hanya kecil tidak masalah, yang penting pemustaka merasa nyaman dan kerasan di perpustakaan.

Fasilitas dengan zona ruangan bersekat yang beraneka fungsi juga perlu, misalnya zona untuk ruang senyap bagi pemustaka yang mengerjakan tugas akhir dan butuh keseriusan atau konsentrasi, kemudian ruang semi senyap untuk ruang baca, sampai pada zona ramai yang memang memberikan kesempatan pemustaka untuk berdiskusi kelompok. Bahkan Huwe (2007: 35) menjelaskan bahwa ruang perpustakaan dengan zona ramai (loud zones) memungkinkan pemustaka bebas bermain game, bersosialisasi, makan minum, sampai ngobrol interaktif dengan pemustaka lain.

2.4.   Layanan Perpustakaan

Layanan perpustakaan yang ideal berarti mengedepankan sisi humanis. Perpustakaan harus punya alat bantu penelusuran informasi bagi pemustaka, misalnya OPAC maupun layanan e-library. Disamping juga harus memperhatikan waktu layanan perpustakaan yang cukup, program pemeliharaan perpustakaan secara berkala, dan tersedianya ruang baca yang representatif. Layanan perpustakaan yang humanis membuat pemustaka menjadi puas. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Laughlin dan Wilson (2008: 2) bahwa pemustaka menginginkan informasi yang terbaru yang akurat, mengharapkan layanan yang nyaman, menginginkan layanan yang didesain secara  handal, dan mengharapkan layanan yang berkualitas tinggi.

Jadi pustakawan perguruan tinggi idealnya dalam melayani juga harus mampu bersikap humanis, artinya \"memanusiakan pemustaka\" atau bahasa Jawanya \"nguwongke\". Aplikasi dari pustakawan humanis tersebut hendaknya dapat mengedepankan sikap courtesy dalam melayani pemustakanya. Hal ini menyangkut aspek bagaimana sikap pustakawan saat melayani pemustakanya, yaitu: mampu memberikan perhatian (attentive), penuh pertolongan (helpful), tenggang rasa (considerate), sopan (polite), maupun peduli (respectful).

2.5.   Sumber Informasi Perpustakaan

Istilah buku jendela dunia tidaklah berlebihan, sehingga perlu didukung dengan ketersediaan koleksi yang memadai. Dalam Brown et. al. (1997: 5) disebutkan bahwa untuk meningkatkan kualitas perpustakaan perguruan tinggi membutuhkan tips tertentu. Idealnya perpustakaan perguruan tinggi saat ini harus bisa menjadi \"research center\" yang mendukung penelitian civitas akademik.

Jadi saat ini selain sumber informasi cetak, ketersediaan e-resources di perpustakaan perguruan tinggi juga menjadi keharusan dalam mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi. Koleksi e-journals maupun e-books yang bisa diakses secara free oleh pemustaka menjadi sesuatu yang wajib ada. Koleksi buku text di perpustakaan perguruan tinggi paling tidak harus memenuhi rasio jumlah buku dengan jumlah pemustakanya, misalnya berkisar antara 1:10 sampai 1:20.

Sumber informasi hendaknya dikembangkan dengan digital reference (misalnya: email, web form) dan virtual reference secara real time (misalnya: using chat, video). Hal ini sesuai dengan pendapat Berube (2003) yang dikutip oleh Wijayaratne (2008: 187) bahwa pustakawan harus memperhatikan trend pemustaka yang mengedepankan akses sumber informasi secara online kapanpun dan dimanapun.

Namun demikian, tersedianya sumber informasi yang memadai tidak akan bisa maksimal didayagunakan oleh pemustaka jika pustakawan tidak aktif melakukan penyebaran informasi dari koleksi yang dimiliki perpustakaan. Pustakawan hendaknya produktif menghasilkan produk kemasan informasi, baik berupa resensi buku baru, poster, maupun informasi terbaru dalam berbagai bentuk paket informasi maupun lembar lepas.

2.6.   Desain Situs Web Perpustakaan

Jika dicermati saat ini masih ada desain situs web perpustakaan yang terkesan hanya asal jadi, artinya belum berstandar pada teori perancangan situs web yang ideal. Hal ini dibuktikan dengan adanya tampilan layar situs web perpustakaan yang belum nyaman untuk para pembaca (reader).

Menurut Nugroho (2009: 77), bahwa desain situs sangat tergantung pada selera dan \"rasa seni\" perancangnya sehingga variasinya pada dasarnya tidak terbatas. Namun secara umum model tampilannya dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu model klasik dan model kontemporer. Model klasik yaitu desain situs web perpustakaan yang dibuat dengan pola yang mengikuti teori psikologi kognitif secara murni, sedangkan model kontemporer yaitu desain situs web perpustakaan yang dibuat dengan pola non-klasik dengan menggunakan pola bebas sesuai inovasi perancang web perpustakaan.

Dalam pandangan penulis, situs web di berbagai perpustakaan masih banyak yang kurang sempurna. Padahal era TIK saat ini menyadarkan betapa kebutuhan pemasaran via internet sudah merupakan keharusan. Keberadaan website perpustakaan perguruan tinggi bisa menjadi promosi dan alat komunikasi dengan dunia luar secara maya. Pustakawan harusnya juga mengetahui pengetahuan tentang apa itu situs web perpustakaan, baik secara umum maupun aplikasi pembuatannya.

Dengan demikian perlu teknik mendesain situs web perpustakaan yang reader friendly, artinya nyaman dibaca oleh pemustaka. Tekniknya antara lain:

1.   Mengetahui berbagai faktor yang perlu diperhatikan untuk membuat suatu situs web perpustakaan agar menjadi favorit bagi pembaca. Misalnya: materi isi situs, kekinian informasi dalam situs, kognitif desain situs, seni desain situs, kemudahan akses, alamat situs yang mudah diingat oleh pemustaka, kecepatan transfer data dari situs, serta model situs yang kontemporer.

2.   Mengetahui faktor ‘psikologi warna\' yang juga sangat penting dalam upaya mendesain situs yang reader friendly. Fungsinya adalah untuk membantu menyusun desain suatu tata warna situs web perpustakaan agar terasa nyaman bagi yang memandang atau melihat.

3.    Memerlukan suatu pemahaman tentang arsitektur informasi dalam merancang suatu situs web perpustakaan. Dalam Ding dan Lin (2010: 2) dijelaskan bahwa arsitektur informasi adalah aspek untuk mengatur dan menyederhanakan informasi, merancang, mengintegrasikan dan menggabungkan informasi, menciptakan cara untuk menemukan, memahami, maupun saling bertukar dalam mengelola informasi.

Dengan demikian dapat saya simpulkan kalau arsitektur informasi dalam kaitannya untuk mendesain situs web perpustakaan merupakan ilmu dan seni tentang bagaimana menyusun, mengorganisasikan, mengelompokkan, membuat navigasi, melakukan pelabelan, maupun membuat sistem pencarian informasi agar perancang situs web perpustakaan mudah mengatur dan menemukan informasi dengan lebih mudah.

Oleh karena itu, saya berpikir bahwa pengembangan website akan menjadi lebih cepat apabila perancang web perpustakaan sudah mengetahui arsitektur informasi dari apa yang akan dibuat. Jadi pustakawan dapat berperan untuk memberikan konsep pengembangan situs web sesuai dengan kebutuhan perpustakaannya. Komponennya bisa berupa:

a.    Organisasi informasi (organizing information), yaitu cara mengelompokkan informasi pada website perpustakaan.

b.    Sitem pelabelan (labelling information), yaitu cara bagaimana suatu istilah yang digunakan bisa dengan tepat mewakili informasi perpustakaan.

c.    Sistem navigasi (navigation systems), yaitu bagaimana membimbing pemustaka berpindah-pindah dari informasi yang satu ke yang lain tanpa kehilangan orientasi penelusuran.

d.   Sistem pencarian (searching systems), yaitu membahas pencarian informasi melalui mesin pencari di web perpustakaan.

2.7.   Software Penelusuran Informasi

Perpustakaan perguruan tinggi idealnya menggunakan perangkat lunak yang user friendly. Hal ini untuk membantu proses pengolahan dan pelayanan informasi, sistem informasi manajemen, dan operasional administrasi perpustakaan.

Istilah user friendly artinya mudah dipergunakan, sehingga lebih cocok untuk mendesain software perpustakaan dalam konteks pangkalan data pada sebuah sistem atau aplikasi program. Jadi software penelusuran dikatakan ideal melalui pendekatan pada sisi kegunaan (usability). Tujuannya agar memudahkan pustakawan dalam inputing data dan bagi pemustaka saat penggunaan dalam temu balik informasi.

Dalam hal ini pengunjung situs web disebut pengguna (user) dan frekuensinya sering sekali dilakukan sewaktu-waktu. Software penelusuran dikatakan ideal harus user friendly, karena pemustaka bisa secara terus-menerus berinteraksi menggunakan suatu aplikasi software saat melakukan penelusuran informasi.

3.   Upaya Pustakawan Membangun Perpustakaan Ideal

Memiliki SDM (pustakawan) yang powerfull pasti berdampak pada kondisi ideal perpustakaannya. Membangun perpustakaan ideal sehingga mampu mewujudkan civitas akademik sebagai pembelajar sepanjang hayat menjadi tantangan pustakawan perguruan tinggi. Bentuk konkrit era TIK saat ini jelas memerlukan pustakawan yang memiliki kompetensi dan penuh daya pesona. Dalam SKKNI (2012: 2), kompetensi pustakawan dijelaskan:

\"Kompetensi adalah kemampuan seseorang yang mencakup pengetahuan, ketrampilan dan sikap kerja yang dapat terobservasi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan atau tugas sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan.\"



Selanjutnya kompetensi tersebut diwujudkan dalam 3 (tiga) kelompok unit kompetensi, yaitu: kompetensi umum, kompetensi inti, dan kompetensi khusus. Selain pustakawan harus memiliki kompetensi, juga harus profesional dalam menjalankan tupoksinya. Jika dikaitkan dengan upaya merekonstruksi peran pustakawan untuk membangun perpustakaan yang ideal, maka paling tidak pihak manajemen perpustakaan perguruan tinggi tersebut juga harus memperhatikan aspek dalam mengelola perpustakaannya. Hal ini bisa dilakukan dengan prinsip \"6M\", yaitu:

1.    Man, maksudnya perpustakaan harus memiliki pustakawan yang mempunyai kompetensi dalam bidang perpusdokinfo.

2.    Money, yaitu dukungan alokasi dana/biaya dengan anggaran yang memadai untuk pengembangan perpustakaan. Anggaran perpustakaan perguruan tinggi sekurang-kurangya 5% dari total anggaran perguruan tinggi diluar belanja pegawai.

3.    Materials, menyangkut ketersediaan sarana prasarana dan sumber informasi dalam bentuk terbitan buku maupun nonbuku yang sesuai kebutuhan pemustaka.

4.    Machines, meliputi dukungan peralatan, teknologi, dan fasilitas perpustakaan yang sesuai dengan trend perpustakaan saat ini.

5.    Method, artinya metode pengelolaan perpustakaan dengan prosedur kerja yang sudah terbakukan, misalnya: perpustakaan mempunyai Standar Operasional Prosedur (SOP) yang baku dalam setiap proses kegiatan agar dapat memenuhi standar layanan ideal.

6.    Market, agar perpustakaan dikenal civitas akademik luas maka harus dipromosikan baik melalui media komunikasi cetak mupun elektronik melalui situs web perpustakaan.

Dalam Brown (2002: 9) disebutkan bahwa langkah awal dalam membangun sebuah perpustakaan adalah dengan menilai terlebih dahulu kelayakan terhadap bangunan yang ada kemudian menentukan apa saja yang sebenarnya diperlukan oleh perpustakaan tersebut. Jadi untuk mewujudkan perpustakaan yang ideal perlu perencanaan yang matang. Hal ini bisa terkait dengan aspek desain interior (interior design), perabot (furnishings), pembagian ruangan (spaces), tanda/rambu perpustakaan (signs), pewarnaan ruangan (colors), pencahayaan/penerangan (lighting), maupun aspek akuistik (acoustics). Selain itu, juga apakah ingin membangun gedung baru, hanya mengembangkan saja, menggabungkan, atau bahkan akan merenovasi sangat membutuhkan peran pustakawannya.

Benson (1997) dalam Saez (2002: 139) mengidentifikasi peran pustakawan dalam era global, yaitu: sebagai penyedia akses internet, navigator, pendidik, penerbit, perantara, evaluator informasi, pengorganisasi informasi, maupun perencana dan pengambil kebijakan. Jadi saya rasa pustakawan mau tidak mau harus berupaya merekonstruksi perannya dengan menjadi \"holistic librarian\", yang artinya memiliki berbagai macam kompetensi yang meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan perpusdokinfo yang berorientasi pada teknologi.

Seberapa hebat dukungan layanan TIK juga harus dibarengi dengan pustakawan yang \"mumpuni\", artinya pustakawan harus mempunyai kepekaan terhadap perubahan perilaku pemustaka dalam akses informasi dan memunculkan kreatifitas ataupun inovasi untuk maju. Saya rasa untuk membangun perpustakaan ideal tidak semudah membalik telapak tangan, namun perlu usaha keras dalam merekonstruksi peran pustakawannya.

Beberapa contoh konkrit yang ingin penulis sampaikan dalam upaya merekonstruksi peran pustakawan untuk membangun perpustakaan yang ideal, antara lain:

a.    Mengembangkan layanan perpustakaan berbasis online yang sesuai dengan trend perilaku akses informasi pemustaka di era TIK;

b.    Mengembangkan sumber informasi elektronik (e-resources) yang sesuai dengan bidang ilmu di perguruan tinggi;

c.    Terpenuhinya ukuran tata ruangan dan berbagai jenis ruang perpustakaan yang memenuhi kebutuhan civitas akademik;

d.   Kondisi ruangan perpustakaan yang memenuhi syarat kesehatan, keselamatan, keamanan, kerapian, dan kenyamanan;

e.    Struktur bahan dan utilitas bangunan perpustakaan yang kuat;

f.     Sistem ventilasi/sirkulasi udara yang cukup agar ruangan tidak pengap;

g.    Tersedianya pengharum ruangan di setiap ruang perpustakaan;

h.    Sistem pengendalian polusi suara (akustik) yang baik sehingga pemustaka tidak terganggu;

i.      Pengaturan sistem keindahan ruangan (misalnya: tanaman indoor, lukisan);

j.      Sistem pencahayaan/penerangan yang tepat dan disesuaikan dengan besar kecil serta fungsi ruangan;

k.    Desain perpustakaan yang menarik dan tata letak ruangan yang nyaman;

l.      Pemilihan warna dinding yang membangkitkan nuansa ilmiah dan sesuai dengan warna perabot;

m.  Penataan interior perlengkapan perpustakaan yang enak dipandang;

n.    Adanya program pemeliharaan perpustakaan, perabot, fasilitas, dan koleksinya;

o.    Pemilihan mebelair yang cocok untuk desain sebuah perpustakaan;

p.    Sistem instalansi air dan listrik yang memadai;

q.    Tersedianya fasilitas pendukung, seperti: ruang untuk ibadah (mushola), parkir, kantin, dan yang lainnya, baik bagi pemustaka maupun pustakawannya;

r.     Jika gedung perpustakaan bertingkat, maka perlu tersedianya toilet di setiap lantai perpustakaan.

C. Penutup

1. Simpulan

Rekonstruksi peran pustakawan perguruan tinggi untuk membangun perpustakaan ideal dilakukan dengan cara mengembalikan peran pustakawan yang idealnya harus mampu menjadi \"holistic librarian\". Jadi harus memiliki kompetensi dan profesional dalam mengelola perpustakaan, mengolah sumber informasi, dan melayani pemustaka dengan berbasis TIK. Upaya merekonstruksi peran pustakawan untuk membangun perpustakaan ideal, meliputi: mengelola perpustakaan sesuai standar nasional perpustakaan, mendesain gedung perpustakaan yang berpedoman pada aturan, menyediakan fasilitas TIK yang mendukung, tersedianya pustakawan humanis yang mampu melayani pemustaka dengan sikap courtesy, menyediakan sumber informasi lengkap baik cetak maupun elektronis, mendesain situs web perpustakaan yang reader friendly, dan menyediakan software penelusuran yang user friendly.

2.   Saran

Dalam upaya merekonstruksi peran pustakawan perguruan tinggi untuk membangun perpustakaan ideal hendaknya dimulai dengan membangkitkan kembali motivasi para pustakawan perguruan tinggi agar menyadari dengan sepenuhnya akan perannya yang sangat penting di perguruan tinggi. Pustakawan harus ambil bagian dalam setiap proses pengembangan perpustakaan, baik tahap awal dalam mendesain gedung perpustakaan sampai pada hal-hal teknis lainnya. 

3.   Manfaat

Artikel ilmiah populer ini penulis susun untuk memunculkan ide/gagasan kreatif penulis sebagai sharing pengalaman dan berbagi pengetahuan dengan para pustakawan/pengelola perpustakaan/pegiat perpustakaan khususnya di perguruan tinggi, menambah wawasan dan solusi konkrit tentang bagaimana mewujudkan perpustakaan perguruan tinggi ideal yang didambakan civitas akademik, sekaligus bermanfaat bagi masyarakat luas secara umum

No comments:

Post a Comment