Tuesday, June 30, 2015

Pengaruh Etos Kerja Pegawai Perpustakaan Terhadap Kualitas Layanan Pengguna

   Perpustakaan hanyalah salah satu dari suatu keragaman yang luas dari lembaga yang memberikan suatu jenis jasa informasi kepada masyarakat. Sejarah perkembangan perpustakaan biasanya akan seiring dan sejalan dengan perkembangan masyrajat sekitarnya. Artinya, untuk masyarakat yang sudah maju juga ditandai dengan keberadaan dan kemajuan perpustakaannya, sedangkan masyarakat yang sedang berkembang, biasanya belum memiliki perpustakaan yang representatif dengan kata lain perpustakaan merupakan ukuran atas kemajuan masyarakat di sekitarnya. Perpustakaan selalu mengalami perubahan, inovasi dan perkembangan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kehadiran perpustakaan dan keberadaannya senantiasa dihadapkan kepada berbagai persoalan terutama dalam hubungannya dengan masyarakat pengguna yang dilayaninya. Karena tanggapan yang berbeda-beda terhadap berbagai faktor maka timbulah berbagai jenis perpustakaan seperti perpustakaan internasional, perpustakaan nasional, perpustakaan daerah, perpustakaan umum, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah dan perpustakaan khusus.
   Perpustakaan merupakan salah satu bagian dan kegiatan penyelenggaraan pendidikan dan penelitian. Keberadaan perpustakaan sangat penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perpustakaan pada umumnya bertujuan memberikan pelayanan informasi yang dibutuhkan pemustaka, serta untuk mendukung, memperlancar dan mempertinggi kualitas pelaksanaan kegiatan perguruan tinggi melalui layanan dan fasilitas yang disediakannya.
   Di dalam suatu lembaga pendidikan perpustakaan perlu lebih aktif dalam mengembangkan informasi untuk memenuhi kebutuhan civitas akademika. Perguruan tinggi yang merupakan lembaga pendidikan yang dituntut untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan intelektual bersaing dan berdaya guna, harus memiliki perpustakaan yang dapat mendukung kegiatan akademik. Sebagai salah satu lembaga pendidikan, perguruan tinggi harus dikelola dan diatur dengan baik melalui kurikulum, kebijakan dan program kerja pengolahannya.
Perpustakaan perguruan tinggi merupakan salah satu sarana pendidikan pada perguruan tinggi, dimana perpustakaan adalah jantung universitas. Perpustakaan berfungsi sebagai pusat pengumpul, pelestarian, pengolahan, pemanfaatan, dan penyebaran informasi.
   Perpustakaan dapat dikatakan berhasil apabila perpustakaan tersebut memiliki tingkat kunjungan yang tinggi, salah satunya karena dapat memenuhi dan melayani kebutuhan informasi pengguna sesuai keinginanya. Kebutuhan pengguna akan informasi yang cepat, akurat, tepat, mudah, murah dan spesifik inilah yang harus disikapi oleh para pustakawan maupun pengelola perpustakaan. Sikap yang harus ditunjukan adalah dengan melakukan kegiatan pelayanan pengguna salah satunya dengan cara menyediakan kebutuhan pengguna sesuai dengan keinginannya.
   Namun saat sekarang ini, eksistensi perpustakaan perguruan tinggi dalam kaitannya dengan kegiatan pelayanan kepada pengguna semakin mendapat kritikan. Hal ini disebabkan oleh pelayanan perpustakaan yang tidak mengikuti perkembangan kompleksitas kebutuhan pengguna sebagai implementasi perkembangan dan mordenisasi dunia, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
Menurut Benveniste (1997: 75) “pola pemberian pelayanan yang dapat diterima secara umum selalu berkembang sepanjang waktu”. Sejalan dengan pendapat di atas, Sulistyo-Basuki mengemukakan bahwa:
Untuk melayani pemakai yang memerlukan informasi seharusnya suatu perpustakaan sebagai pusta informasi dapat menjawab dengan bertumpu pada koleksi yang dipunyai atau setidaknya bisa mengarahkan dimana informasi itu bisa diperoleh, dengan kata lain memberikan pelayanan penelusuran dan know where information. (Basuki 1989:4)
   Dengan demikian, paradigma baru perpustakaan adalah pelayanan kepada pengguna. Sebagaimana fenomena di berbagai perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia senantiasa mengalami berbagai persoalan sebagai akibat kurang mantapnya kualitas sumber daya manusia, staf perpustakaan khususnya di Universitas Sumatera Utara pada bagian layanan digital khusus untuk mahasiswa pascasarjana.
Sumber daya manusia di perpustakaan merupakan salah satu faktor yang sangat penting, oleh sebab itu harus selalu dikembangkan sesuai dengan kebutuhan yang harus dipenuhi. Pengembangan sumberdaya manusia di perpustakaan perguruan tinggi harus dilakukan secara baik agar perpustakaan tersebut memiliki sumberdaya manusia yang berkualitas yang mampu melakukan pelayanan perngguna secara baik. Agar pembinaan sumberdaya manusia perpustakaan tersebut dapat berhasil, maka harus diperhatikan kebutuhan informasi organisasi, ketersedian sarana dan prasarana, biaya, materi, jabatan dan posisi atau penempatan. Disamping mempertimbangkan unsur ekonomis yang praktis, karena jika pembinaan kemampuan dan kompetensi sudah dilakukan tetapi tidak ditindak lanjut dengan pemberian posisi yang sesuai dapat berpengaruh terhadap semangat kerja pegawai yang bersangkutan
   Kurang optimlanya pelayanan kepada pengguna oleh pegawai perpustakaan untuk mahasiswa dapat dilihat dari beberapa gejala seperti: kurangnya jumlah pegawai yang memang berlatarbelakang pendidikan formal perpustakaan ataupun yang berhubungan dengan teknologi informasi karena berhubungan dengan pelayanan digital, kurangnya rasa tanggung jawab dalam menginformasikan tatacara penggunaan layanan digital, diskriminasi dalam pelayanan serta perilaku pelayanan yang kurang tanggap dan peduli. Ketidakhadiran sejumlah pustakawan juga mempengaruhi kualitas pelayanan kepada pengguna, disamping pada jam-jam tertentu terdapat sejumlah pustakawan yang tidak berada di tempatnya atau sibuk dengan urusan pribadi, hal ini banyak mengundnag persepsi dan kesan serta opini yang tidak baik dari pengguna.
Sistim penerapan hukum disiplin pegawai juga masih belum dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh pimpinan instansi yang menaungi perpustakaan. Pustakawan hanya berkonsentrasi pada hukuman disiplin ringan dan tidak satupun hukuman disiplin pegawai dalam taraf sedang dan berat diterapkan di kalangan pegawai. Hal ini tentunya berdampak pada kurang semangat kerja sebagian pustakawan dalam melaksanakan tugas.

Mjd.

No comments:

Post a Comment